Relaktasi

Dua bulan terakhir, setiap harinya bawa pulang hasil pumping maksimal 2 botol @100ml. Sedikit banget, walau impas dengan jumlah yang diminum Zaq tiap harinya. Ternyata memang anaknya kalau di rumah maunya makan. ASIP cuma mau kalau dia ngantuk. Biar begitu, udah niat untuk nambah frekwensi pumping di kantor, untuk merangsang produksi ASI.

Belum kesampaian, tiba-tiba ada KLB campak di kantor dan aku tertular 😢 Jadilah seminggu nggak ke kantor. Harusnya anak-anak diungsikan, ya, supaya nggak tertular. Tapi banyak faktor yang akhirnya berujung kita pasrah dan anak-anak tetap di rumah, termasuk si bayi 9 bulan.

Namanya bayi, mana dia tau emaknya lagi sakit. Dia taunya pabrik ASI kembali buka 24 jam, and he couldn’t be happier. Satu jam setelah makan pagi, pasti mulai ngak-ngek minta nyusu. Begitu pula setelah makan siang dan sore menjelang makan sore. Belum lagi kalau mau tidur siang dan kalau lagi iseng. Ujungnya nyusu, lah, pokoknya. Setelah seminggu seperti ini, mulai terasa ASI kayaknya makin banyak. Bahkan, sempat kepenuhan dan akhirnya dipompa karena anaknya lagi asyik main, nggak mau minum.

Stimulation is the key when breastfeeding is concerned. Makin sering menyusui, produksi makin banyak. In this case, I have proven it. Yang tadinya mau proses relaktasi lagi, jadinya sekarang tinggal maintain. Setelah udah ngantor lagi, pumping-nya harus ngikutin pola nyusu si Zaq. Dia nyusu juga sebentar-sebentar aja, kok. Jadi pumping juga harusnya nggak perlu sejam juga. Cuma dipersering, idealnya bisa tiga kali selama di kantor.

Sekarang tinggal gimana supaya nggak  keasyikan kerja sampe lupa pumping. Pasang alarm aja kali, ya?

Siap-siap Kembali Ke Kantor!

Saat mulai menulis post ini, hitungannya H-7 kembali ke kantor. Kangen suasana kantor? Definitely. I’m lucky to have pleasant work environment. Kangen kerjaan? Sure. I like having work to do and use my brain. Walau tentu di rumah sambil baca novel sembari nyusuin juga menyenangkan. Nervous? Iya juga. Terutama soal ninggalin bayi di rumah. Meski ini anak ketiga, Zaq bakal jadi yang pertama ditinggal di rumah saat masih menyusui eksklusif. Aria dan Rory “beruntung” karena waktu mereka bayi, I was a stay at home mom. Nyusu semaunya dan sepuasnya, kalau mereka.

Ibu bekerja tentu tahu yang harus disiapkan sebelum cuti bersalin habis adalah stok ASIP. Nah, karena kurang pengalaman pumping inilah, di H-7 ini stok ASIP di freezer paling cukup buat 2 hari. Iya, dua hari saja. Kebayang ini pasti kejar-kejaran stok selama 3 bulan berikut. Deg-degan juga ini. Bukannya nggak mompa, masalahnya anak cowok ini nyusunya kuat banget nget nget. Boro-boro mau mompa, wong disedot terus. Paling sehari dapet 1 botol 90ml, maksimal 2 botol. Duh, puyeng akuuuu… Menurut perhitungan, selama ditinggal kerja Zaq bakal ngabisin 5-8 botol @100ml sehari. How am I suppose to catch up to that? Rada mau nangis sih mikirinnya 😢.

Dari dulu memang nggak merasa sukses kalau pumping. Nyusuin langsung selalu terasa adequate. Yakin pasti cukup buat anaknya. Rasanya juga ASI nggak semua bisa keluar kalau dipompa, lain dengan kalau dihisap bayi. Kalau abis nyusuin itu pasti berasa “kosong”, sedang kalau dipompa, udah nggak ada yang keluar, tapi begitu dihisap bayi kedengeran anaknya minum. Berarti masih sisa banyak kan di dalem yang nggak kepompa? And, I was always intimidated by the milliliter markers on the bottle. Kayaknya kalo nggak nyampe sekian mili, langsung drop.

Semoga di not-so-distant future, cuti bersalin bisa 6 bulan. Jadi nggak puyeng selama masa menyusui eksklusif. Yuk, berdoa sama-sama. 🙂

Bottles, Y U no magically fill yourselves? :p
Bottles, Y U no magically fill yourselves? :p