Night Thought

Just because it’s not “my first rodeo” doesn’t mean I don’t worry about the whole process. Even without the special circumstances we’ll be dealing with, it’s still a daunting task and I experienced it with the previous three. 

So, yeah, I’m a bit scared. Though I’m a go-with-the-flow kind of person, the fear is there and I’ll deal with it when the time comes. 

Emoji! ;)

Sebenarnya sudah beberapa bulan yang lalu baca-baca artikel soal studi yang menemukan bahwa emoji interpretasinya bisa berbeda-beda, baik across platform atau yang platform sama (phone OS, maksudnya). Yes, ada studinya, kalau mau baca antara lain ada di sini, sini, sini. Berhubung biasanya memang cuma pakai satu jenis handphone aja (dan biasanya sama suami merk sama, sok kompak), jadinya selama ini nggak sadar kalau emoji itu di OS berbeda bisa terlihat beda jugak. Hahahaaa katro. Ya ini understandable, lah. Gambar beda pemahaman juga potensi beda.

Tapi ternyata bisa juga gambar sama dipersepsi beda. Again, sebenernya bukan hal yang aneh kalau kita bicara lintas kultur. Facial expression, apalagi yang sudah dalam bentuk gambar ala emoji, memang sangat bisa dipersepsi berbeda. I wasn’t expecting, though, that it could happen very near me. Baru kemarin banget ngalamin perbedaan persepsi ini.

emoji

Nama disamarkan demi yang terlibat nggak tengsin. Tapi dari pembicaraan di atas ada dua orang yang punya persepsi bahwa emoji tersebut adalah emoji sedih/menangis. Btw emoji yang dimaksud adalah yang ini: 160x160x23-face-with-tears-of-joy.png.pagespeed.ic_.Z_mT_BlOxX.  I thought it was obvious what this emoji conveys. Walau ada air mata, tapi ekspresinya jelas ketawa. So this is a laugh-out-loud, tears-streaming happy laugh emoji. Namun terbukti dari conversation di atas nggak semua orang berpikiran sama. Pernah baca juga status update seseorang yang ngingetin hati-hati jangan pake emoji ini untuk menanggapi berita duka cita. Karena kan dianggap kita ngetawain kesedihan orang lain dong? Disaster. Padahal maksud kita nggak begitu.

Emoji yang (mungkin) awalnya dibuat untuk transcend language barrier, ternyata tetap punya potensi mispersepsi. Makanya, memang mesti hati-hati untuk bentuk komunikasi tulisan (termasuk emoji). Mesti bijak juga dalam menginterpretasikan tulisan orang lain. Kadang kitanya aja baper padahal mungkin penulis nggak bermaksud demikian.

Stay wise. 😉

 

 

Di Saat Sedang Berduka…

Bulan lalu keluarga baru saja mengalami kehilangan. Nyakciknya anak-anak akhirnya berpulang. Walau sudah cukup lama sakit tetap saja kami keluarganya tak menyangka. Anak-anak juga sedih banget. And honestly I can’t imagine how my husband feels and deals with it.

Buat saya dan suami, ini adalah kali pertama kami harus menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan “administrasi” dan lain-lain yang terkait dengan kematian. Sure, over the years family members passed away but never one so close to us. Yang terdekat adalah waktu nenek dan kakek saya meninggal beberapa tahun lalu. Namun karena masih ada anak-anaknya (my mom & her siblings), jadinya kita, cucu-cucu, nggak terlalu terlibat dalam detail selama pemakaman dan pengurusan ina-inu. This is my first. Yang lumayan bikin miris adalah, kok ada (banyak) cara/jalur untuk minta biaya dari keluarga yang ditinggalkan ya? Ini terutama di pemakaman sih.

Biaya resmi untuk tanah makam (di Jakarta) sebenarnya nggak mahal, sekitar 100.000 per 3 tahun kalau merujuk ke Peraturan Daerah no. 3 tentang Retribusi Daerah. Itu sewa tanah makam ya. But I’m talking about the funeral. Kemarin itu Papa yang bantu urus pemakaman karena kita masih di RS nunggu jenazah. Untuk “acara pemakaman”, dikenakan biaya 1.5 juta. Sudah termasuk tenda dan kursi, katanya. Benar, sih. Tapi tendanya ya rombeng, kursi 4 buah tanpa jok alias sudah rusak sak sak. Lebih parah lagi, untuk bunga (literally 3 small shallow baskets, with a thin layer of petals on them), charge-nya 800.000. Delapan ratus ribu.

Selesai? No. Selesai pemakaman, saat kerabat sudah mulai pulang, gue mulai didekati berbagai pihak. Ngapain? Minta uang, tentunya. Oh, sure, semuanya “sukarela”, kok. Untuk yang gali makam, pasang tenda (yang harusnya sudah all-in ya dengan “biaya pemakaman” di atas, IMHO), dan yang berdoa. FYI untuk yang berdoa ini, kita nggak minta dan nggak mau sebenernya. Sudah ada yang memandu pemakamannya dari Yayasan Bunga Kamboja, dan suami gue tidak mau ada doa bersama. Tapi tiba-tiba orang ini di tengah-tengah langsung nyelak “mimpin” doa. So callous and impolite, I think. Ya sudah lah kita kasih semua pihak tersebut. Bahkan ada keluarga yang masih di dekat makam, ngobrol, disamperin ibu-ibu yang bersih-bersih makam. Minta uang lagi. Ya tentu dikasih.

Ya sudahlah. Sudah lewat dan kita sudah rela juga. Pun, dari keluarga dan teman banyak banget yang kasih bantuan, alhamdulillah. Nulis ini hanya untuk sharing. Siapa tahu ada juga yang belum pernah ngurus pemakaman kayak saya, jadi kan tahu ada beberapa pengeluaran yang mungkin bisa dibilang tak terduga. Jadi nanti nggak kaget. Kalau merasa jumlah yang kami bayar terlalu mahal, berarti nanti kalau mengalami, bisa jadi benchmark. Jangan mau bayar segitu. 😀 Kami sih nggak kepikiran samsek saat itu. Yah, namanya lagi galau…

Oh, btw, beberapa hari kemudian saat kita balik untuk pesan nisan, bayar lagi sejutaan untuk nisan dan rumput 😀

 

 

How To: Menahan Diri Dari Belanja Skincare Berlebih

Para beauty junkie pasti bisa mengerti gimana rasanya pas liat skincare baru di IG blogger atau IG olshop langganan. P.e.n.a.s.a.r.a.n. Rasanya, langsung pengen beli juga dan  berharap hasilnya muka sekinclong sang blogger kece. Nyatanya? Menemukan skincare yang cocok dan works for you itu hampir sama susahnya dengan menemukan ART yang cocok dan rajin serta jujur lagi pandai menabung. Banyak banget pertimbangan seperti, ada ingredients yang nggak cocok/alergi atau nggak, sesuai sama jenis kulit atau nggak, beneran butuh sesuai skin concern apa nggak, clash dengan produk lain yang sudah dimiliki atau nggak, dsb. Intinya gini deh, beli skincare nggak boleh kalap. Masalahnya, gimana caranya men-distract otak yang udah kepikiran pengen skincare baru? Nah, kebetulan saya baru saja mengalami mupeng banyak banget skincare tapi berhasil ngerem dan beli cuma satu (please don’t laugh. Beli satu udah achievement banget, ini).

Caranya gimana? Ada beberapa alternatif, nih.

  1. Cek lemari baju dan sepatu anak. Jangan-jangan, piyamanya udah kesempitan? Kaus kakinya bolong, atau sepatunya sempit/rusak. Anak-anak tumbuh cepet, lho. Bisa aja kita nggak sadar mereka udah perlu baju baru. Nah, daripada buat skincare, beliin dulu deh piyama supaya perutnya nggak kena dingin AC gara-gara piyamanya udah pendek. Hehehehe….
  2. Cek rumah dengan teliti. Itu keran bocor udah diperbaiki, belom? Musim ujan, lho, nih. Atap bocor walau cuma kedengeran netes-netes aja harus segera diperbaiki, kalau nggak nanti makin parah dan eternit bisa jebol. Fix that.
  3. Cek STNK kendaraan. Kapan waktunya perpanjang? Udah harus bayar pajak lima tahunankah? Mending duitnya sisihin buat perpanjang STNK. Ye gak?
  4. Cek segala pajak tahunan. Sudah ada dana untuk bayar masing-masing pajak saat tenggatnya nanti? Kalau belum dan harus dicicil, ya, mending uangnya lari ke sana.
  5. Anak udah sekolah? Ada uang tahunan yang harus dibayar nggak? Atau, cek apakah ada kebutuhan sekolah anak yang harus dibeli. Misal, untuk ekskulnya.
  6. Yang punya investasi reksadana, yakin nggak mau top up instead of buying that new moisturizer that you probably don’t really need? 
  7. Cek bucket list. Masih nabung buat trip impian ke Alaska (silakan ganti dengan nama tempat impianmu. Ini gue juga bingung kenapa nulis Alaska wong nggak tahan dingin)? Ya, mungkin duitnya mending masuk ke pos itu?

The idea is, think of what other useful things you could do with your money. Tentunya yang prioritasnya lebih tinggi, ya.  Nah, gimana kalau ternyata udah memikirkan segala macem keperluan, ternyata udah ke-cover semua? Oke, pertama, sujud syukur dulu, gih. Hahahahaaaa… Lucky you.

When all else failremember to always do thorough research before purchasing new skincare. Baca aja sebanyak-banyaknya soal produk yang diinginkan. Kadang bisa, lho, kelamaan mikir dan riset malah jadi ilfil dan nggak jadi beli. Hehehee…. Silakan komen soal dosa terbaru urusan belanja skincare. I need to know that I’m not the only one :p

 

Kiri: Cosrx AHA (beli tahun lalu) Kanan: Trilogy Rosehip Oil (dosa terbaru)
 
 

[Eats&Treats] Anomali’s Eggs Benedict 

I can’t remember the first time I started obsessing about Eggs Benedict. It might have been an episode of Hell’s Kitchen or something. I vaguely remember Gordon Ramsay. Perhaps it was MasterChef. Point is, I was fascinated by the way Chef Ramsay describe how a “proper” eggs benedict should be. Texture of muffin, consistency of classic hollandaise sauce, and of course, the pièce de résistance , the perfectly poached eggs.

So began my journey toward finding great Eggs Benedict. To my chagrin, restaurants that serve Eggs Benedict are typically on the higher end of the price point. *sigh* So I haven’t been able to try out as many as I would like. My first few tries are disappointing to say the least.

One day husband and I decided to reward ourselves for heavens-know-what and go breakfast-dating. As usual, we drove toward Kemang area. On a whim I decided to stop at Anomali Coffee. While parking, I consulted the ever-trusty Zomato to scout menus. If you read my post about Mockingbird restaurant you’d recall that I always have difficulty deciding what to eat so consulting ahead will help. In short, I found that they have Eggs Benedict so I knew what I would order!

We both ordered some fancy-named iced coffee to go with my Eggs Benedict. Husband already had hearty bubur ayam for breakfast so no meal for him. I had to wait for over 30 minutes for the eggs to arrive! Lucky for the restaurant I’m a patient person and rarely complain about these things. After waiting and even changing seats, it finally came. The looks didn’t disappoint.

How about the taste, though? I’m no food expert but this taste pretty good. Again, not a classic Eggs Benedict since there was no muffin. They used croissant instead, which I like. Eggs were not poached. I don’t know how they did it but the yolk was not blanketed by the whites. The yolk should be mostly runny. It wasn’t. 😦  The sauce tasted nice but as you can see from the photo, the sauce was not creamy and smooth like a Hollandaise is expected to be. It was grainy. Fortunately the smoked salmon was delicious. It was not a bad dish, really. I just felt like it wasn’t a “proper” one the way it is described on every cooking show. I’m still looking for that classic Eggs Benedict.

Zaq’s First Step

Ini sebenernya rada basi, sih. Soalnya ide awal post ini adalah pas hadir di baby shower-nya Cathy Sharon Agustus lalu. Nggak, bukan temen gue si Cathy sampe diundang baby shower-nya. Urusan sama Mommies Daily ini. Anyway, long story short, di acara ini juga dijelaskan soal campaign Fisher-Price yang judulnya #LangkahPertama. Basically, highlighting the importance of baby’s milestone especially his first step and what stimulation we can give him.

Pulang dari acara ini gue mikir, memang tiap milestone itu penting. Nggak usah terlalu ngotot anak harus bisa di umur sekian, tapi jangan dicuekin juga. Pernah juga dulu denger waktu talkshow dengan dr. Attila  waktu Aria masih bayi, beliau cerita ada anak yang mengalami kesulitan motorik halus saat usia sekolah, ternyata ada milestone yang tidak tercapai saat bayi. Karena motorik kasarnya kurang berkembang, maka motorik halusnya terpengaruh juga.

Bulan September lalu Zaq usianya setahun. Belum bisa jalan. Fix nervous. Kakak-kakaknya (duh, I can’t help but compare. At least benchmarking) di usia setahun minimal beberapa langkah, lah. Yang bontot ini kok hati-hati banget. I shouldn’t have to worry too much, karena sebenarnya terlihat dia bisa, kok. Kalau berdiri, sudah stabil. Jalan juga harusnya bisa hanya saja dia sangat hati-hati dan selalu maunya merambat/pegangan. Padahal kelihatan pegangannya cuma basa-basi. Tapi tetep aja nggak mau jalan sendiri. Kalau harus ke area yang nggak ada tempat pegangan, pasti langsung drop down dan merangkak. Kombinasi males, hati-hati dan takut. Gregetan akuh.

Ditambah dengan “masalah” gigi belum tumbuh, badan yang kurus, preferensi tekstur makanan yang masih lunak, diboyonglah si bayi untuk konsultasi ke dokter anak. Eiya, setelah biasanya kita main cap-cip-cup aja dokter anak di rumah sakit manapun asal terima asuransi kantor, akhirnya kita menemukan yang juga cocok personality-wise! Hore! Setelah dicek cukup thorough (minus segala blood test, tentunya), dokternya sih berkesimpulan belum perlu ambil tindakan apa-apa, kecuali melatih untuk makan tekstur kasar. Soal jalannya juga, dilihat sebenarnya sudah kuat. Ya itu, anaknya terlalu hati-hati. Perlu latihan saja. Gigi juga akan terbantu untuk erupt kalau makannya lebih keras teksturnya. Lah, ini PR. Soalnya anaknya suka muntah kalau makanannya nggak dihalusin. Padahal kalau makan biskuit, bisa. Doh.

Akhirnya orang tuanya hanya bisa sabar dan memantau. Meng-encourage juga, lah. Kadang kayak “maksa” supaya dia nggak pegangan saat jalan. Mesti sabarrrrr… Tiap anak memang beda-beda juga perkembangannya. Akhirnya sebulan setelah konsultasi ke dokter, si bayi mulai lebih mantap langkahnya. Kadang masih suka merangkak kalau merasa terlalu jauh atau capek, dan jalannya pun masih ala zombie. Progress, nevertheless.

Nah, sekarang tentunya sudah lebih lancar jalannya. Semakin dia pede dan bisa, semakin sadar bahwa jauh lebih enak jalan dibanding merangkak (dengkul sakit, cyin). Jalannya masih zombie, sih, and slow. Baby steps, literally. 😀

Tapi memang benar yang dikatakan psikolog Vera Itabiliana di acara Fisher-Price waktu itu. Stimulasi juga memegang peranan untuk “pencapaian” milestone anak. Kalau gue sih menyikapi soal milestone begini aja, dijadikan sebagai rough guideline instead of checklist yang harus dipenuhi. Misalnya soal jalan ini. Normalnya memang usia setahun sudah bisa jalan. Kalau belum setahun udah bisa, alhamdulillah. Nggak pusing. Pas ultah masih merangkak? Take a closer look. Berdiri udah bisa belum? Rambatan? Jalan sambil pegangan? Titah? Kuncinya, observe, observe, observe.  Bila dirasa perlu, konsul ke dokter.

Akhir kata, silakan nikmati foto-foto dari baby shower-nya Cathy 😀