[Recent Haul] Cushions Galore!

It all started when I impulsively decided that I wanted a cushion blush. Since cushions are mostly from Korean brands, the first ones I saw were those collaborative lines e.g. Doraemon x A’pieu. Then I saw the older Line Friends x Missha and kinda fell in love with the Sally cushion. Just because. 

So I went a bit overboard and purchased two cushions and one cushion blush. Blame the hormones ๐Ÿ˜› 

What I bought is Missha x Line Friends Magic Cushion Moisture SPF50 / PA+++, shade #23. It took a while finding this shade since most sellers were left with #21. The cute Mike Wazowski is The Face Shop x Disney CC Long Lasting Cushion, #v203. The cute Rilakkuma is a collab with A’pieu, cushion blush #CR01. 

Haven’t tried any of these. When I have and have time I MIGHT post some reviews. 

Btw I also have the cushion case of A’pieu x Doraemon ๐Ÿ™ˆ Just because it’s cute. 


Wish List: Compact Powder with Sun Protectionย 

After finally managed to decide on what sunscreen to get (Biore UV Aqua Watery Essence), I’m still in a sunscreen crave. This time I thought I’ll get something in powder form, for touch ups during the day. Again I’m leaning toward Asian products since they seem to obsess over sun protection more so than western brands. To my delight, more local Indonesian products now have double spectrum sun protection. Easier to find, and relatively more affordable. Yay! So, I have been thinking and have narrowed down my choices to the following, in no particular order.

  1. Caring by Biokos Timeless Illuminate. SPF 35 PA+++ย XHB00438500000377_2016060778279_1_caring-by-biokos-timeless-illuminate-dual-action-cake-01-silky-nude---for-dry-skin
  2. Canmake Transparent Finish Powder. SPF 30 PA++ย img_7610

To be honest I don’t know what else is out there in terms of compact powder with sun protection. I think Emina and Marina both have compact powder with UV protection, too. I’ve also seen some Sun Cushion but I think I’d like powder form since I already use cushion as base. But darn these Korean cosmetics, they keep producing these cute cushions!

The Face Shop x Disney Baby Sunscreen Cushion
etude sun blind ์—๋›ฐ๋“œํ•˜์šฐ์Šค_์„ _๋ธ”๋ผ์ธ๋“œ_์ฟ ์…˜_00002-750x750
Etude House Sun Blind Cushion
The Face Shop x Kakao Friends Sun Eco Cushion

Still don’t know which one I’m gonna get, although I’m leaning towards Sariayu. Do you use sun protection powder/compact? Any thoughts?

Night Thought

Just because it’s not “my first rodeo” doesn’t mean I don’t worry about the whole process. Even without the special circumstances we’ll be dealing with, it’s still a daunting task and I experienced it with the previous three. 

So, yeah, I’m a bit scared. Though I’m a go-with-the-flow kind of person, the fear is there and I’ll deal with it when the time comes. 

Emoji! ;)

Sebenarnya sudah beberapa bulan yang lalu baca-baca artikel soal studi yang menemukan bahwa emoji interpretasinya bisa berbeda-beda, baik across platform atau yang platform sama (phone OS, maksudnya). Yes, ada studinya, kalau mau baca antara lain ada di sini, sini, sini. Berhubung biasanya memang cuma pakai satu jenis handphone aja (dan biasanya sama suami merk sama, sok kompak), jadinya selama ini nggak sadar kalau emoji itu di OS berbeda bisa terlihat beda jugak. Hahahaaa katro. Ya ini understandable, lah. Gambar beda pemahaman juga potensi beda.

Tapi ternyata bisa juga gambar sama dipersepsi beda. Again, sebenernya bukan hal yang aneh kalau kita bicara lintas kultur. Facial expression, apalagi yang sudah dalam bentuk gambar ala emoji, memang sangat bisa dipersepsi berbeda. I wasn’t expecting, though, that it could happen very near me. Baru kemarin banget ngalamin perbedaan persepsi ini.


Nama disamarkan demi yangย terlibat nggak tengsin. Tapi dari pembicaraan di atas ada dua orang yang punya persepsi bahwa emoji tersebut adalah emoji sedih/menangis. Btw emoji yang dimaksud adalah yang ini:ย 160x160x23-face-with-tears-of-joy.png.pagespeed.ic_.Z_mT_BlOxX. ย I thought it was obvious what this emoji conveys. Walau ada air mata, tapi ekspresinya jelas ketawa. So this is a laugh-out-loud, tears-streaming happy laugh emoji. Namun terbukti dari conversation di atas nggak semua orang berpikiran sama. Pernah baca juga status update seseorang yang ngingetin hati-hati jangan pake emoji ini untuk menanggapi berita duka cita. Karena kan dianggap kita ngetawain kesedihan orang lain dong? Disaster. Padahal maksud kita nggak begitu.

Emoji yang (mungkin) awalnya dibuat untuk transcend language barrier, ternyata tetap punya potensi mispersepsi. Makanya, memang mesti hati-hati untuk bentuk komunikasi tulisan (termasuk emoji). Mesti bijak juga dalam menginterpretasikan tulisan orang lain. Kadang kitanya aja baper padahal mungkin penulis nggak bermaksud demikian.

Stay wise. ๐Ÿ˜‰



Di Saat Sedang Berduka…

Bulan lalu keluarga baru saja mengalami kehilangan. Nyakciknya anak-anak akhirnya berpulang. Walau sudah cukup lama sakit tetap saja kami keluarganya tak menyangka. Anak-anak juga sedih banget. And honestly I can’t imagine how my husband feels and deals with it.

Buat saya dan suami, ini adalah kali pertama kami harus menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan “administrasi” dan lain-lain yang terkait dengan kematian. Sure, over the years family members passed away but never one so close to us. Yang terdekat adalah waktu nenek dan kakek saya meninggal beberapa tahun lalu. Namun karena masih ada anak-anaknya (my mom & her siblings), jadinya kita, cucu-cucu, nggak terlalu terlibat dalam detail selama pemakaman dan pengurusan ina-inu. This is my first. Yang lumayan bikin miris adalah, kok ada (banyak) cara/jalur untuk minta biaya dari keluarga yang ditinggalkan ya? Ini terutama di pemakaman sih.

Biaya resmi untuk tanah makam (di Jakarta) sebenarnya nggak mahal, sekitar 100.000 per 3 tahun kalau merujuk ke Peraturan Daerah no. 3 tentang Retribusi Daerah. Itu sewa tanah makam ya. But I’m talking about the funeral. Kemarin itu Papa yang bantu urus pemakaman karena kita masih di RS nunggu jenazah. Untuk “acara pemakaman”, dikenakan biaya 1.5 juta. Sudah termasuk tenda dan kursi, katanya. Benar, sih. Tapi tendanya ya rombeng, kursi 4 buah tanpa jok alias sudah rusak sak sak. Lebih parah lagi, untuk bunga (literally 3 small shallow baskets, with a thin layer of petals on them), charge-nya 800.000. Delapan ratus ribu.

Selesai? No. Selesai pemakaman, saat kerabat sudah mulai pulang, gue mulai didekati berbagai pihak. Ngapain? Minta uang, tentunya. Oh, sure, semuanya “sukarela”, kok. Untuk yang gali makam, pasang tenda (yang harusnya sudah all-in ya dengan “biaya pemakaman” di atas, IMHO), dan yang berdoa. FYI untuk yang berdoa ini, kita nggak minta dan nggak mau sebenernya. Sudah ada yang memandu pemakamannya dari Yayasan Bunga Kamboja, dan suami gue tidak mau ada doa bersama. Tapi tiba-tiba orang ini di tengah-tengah langsung nyelak “mimpin” doa. So callous and impolite, I think. Ya sudah lah kita kasih semua pihak tersebut. Bahkan ada keluarga yang masih di dekat makam, ngobrol, disamperin ibu-ibu yang bersih-bersih makam. Minta uang lagi. Ya tentu dikasih.

Ya sudahlah. Sudah lewat dan kita sudah rela juga. Pun, dari keluarga dan teman banyak banget yang kasih bantuan, alhamdulillah. Nulis ini hanya untuk sharing. Siapa tahu ada juga yang belum pernah ngurus pemakaman kayak saya, jadi kan tahu ada beberapa pengeluaran yang mungkin bisa dibilang tak terduga. Jadi nanti nggak kaget. Kalau merasa jumlah yang kami bayar terlalu mahal, berarti nanti kalau mengalami, bisa jadi benchmark. Jangan mau bayar segitu. ๐Ÿ˜€ Kami sih nggak kepikiran samsek saat itu. Yah, namanya lagi galau…

Oh, btw, beberapa hari kemudian saat kita balik untuk pesan nisan, bayar lagi sejutaan untuk nisan dan rumput ๐Ÿ˜€



How To: Menahan Diri Dari Belanja Skincare Berlebih

Para beauty junkie pasti bisa mengerti gimana rasanya pas liat skincare baru di IG blogger atau IG olshop langganan. P.e.n.a.s.a.r.a.n. Rasanya, langsung pengen beli juga dan  berharap hasilnya muka sekinclong sang blogger kece. Nyatanya? Menemukan skincare yang cocok dan works for you itu hampir sama susahnya dengan menemukan ART yang cocok dan rajin serta jujur lagi pandai menabung. Banyak banget pertimbangan seperti, ada ingredients yang nggak cocok/alergi atau nggak, sesuai sama jenis kulit atau nggak, beneran butuh sesuai skin concern apa nggak, clash dengan produk lain yang sudah dimiliki atau nggak, dsb. Intinya gini deh, beli skincare nggak boleh kalap. Masalahnya, gimana caranya men-distract otak yang udah kepikiran pengen skincare baru? Nah, kebetulan saya baru saja mengalami mupeng banyak banget skincare tapi berhasil ngerem dan beli cuma satu (please don’t laugh. Beli satu udah achievement banget, ini).

Caranya gimana? Ada beberapa alternatif, nih.

  1. Cek lemari baju dan sepatu anak. Jangan-jangan, piyamanya udah kesempitan? Kaus kakinya bolong, atau sepatunya sempit/rusak. Anak-anak tumbuh cepet, lho. Bisa aja kita nggak sadar mereka udah perlu baju baru. Nah, daripada buat skincare, beliin dulu deh piyama supaya perutnya nggak kena dingin AC gara-gara piyamanya udah pendek. Hehehehe….
  2. Cek rumah dengan teliti. Itu keran bocor udah diperbaiki, belom? Musim ujan, lho, nih. Atap bocor walau cuma kedengeran netes-netes aja harus segera diperbaiki, kalau nggak nanti makin parah dan eternit bisa jebol. Fix that.
  3. Cek STNK kendaraan. Kapan waktunya perpanjang? Udah harus bayar pajak lima tahunankah? Mending duitnya sisihin buat perpanjang STNK. Ye gak?
  4. Cek segala pajak tahunan. Sudah ada dana untuk bayar masing-masing pajak saat tenggatnya nanti? Kalau belum dan harus dicicil, ya, mending uangnya lari ke sana.
  5. Anak udah sekolah? Ada uang tahunan yang harus dibayar nggak? Atau, cek apakah ada kebutuhan sekolah anak yang harus dibeli. Misal, untuk ekskulnya.
  6. Yang punya investasi reksadana, yakin nggak mau top up instead of buying that new moisturizer that you probably don’t really need? 
  7. Cek bucket list. Masih nabung buat trip impian ke Alaska (silakan ganti dengan nama tempat impianmu. Ini gue juga bingung kenapa nulis Alaska wong nggak tahan dingin)? Ya, mungkin duitnya mending masuk ke pos itu?

The idea is, think of what other useful things you could do with your money. Tentunya yang prioritasnya lebih tinggi, ya.  Nah, gimana kalau ternyata udah memikirkan segala macem keperluan, ternyata udah ke-cover semua? Oke, pertama, sujud syukur dulu, gih. Hahahahaaaa… Lucky you.

When all else failremember to always do thorough research before purchasing new skincare. Baca aja sebanyak-banyaknya soal produk yang diinginkan. Kadang bisa, lho, kelamaan mikir dan riset malah jadi ilfil dan nggak jadi beli. Hehehee…. Silakan komen soal dosa terbaru urusan belanja skincare. I need to know that I’m not the only one :p


Kiri: Cosrx AHA (beli tahun lalu) Kanan: Trilogy Rosehip Oil (dosa terbaru)