Wish List For Zizy

Truly my life has enter a new stage. Dulu kalo posting soal wish list biasanya nggak jauh-jauh dari makeup atau skincare. Sekarang? “Naik tingkat”, dong, jadi medical equipment! Hahahahaha…. Zizy memang butuh extra care termasuk juga dari segi peralatan yang mungkin anak lain nggak butuh. Sejujurnya gue dan Arief juga nggak tahu apakah alat-alat ini akan membantu secara signifikan, but as parents we can’t help but try to provide her with the best. Padahal gue beli diaper buat dua anak aja ngomel panjang pendek hihihihi…

Air Purifier

Alasan kepengen beli ini karena, as we learned the hard way, Zizy itu super rentan terhadap infeksi. Terbukti ya dengan kena pneumonia usia 3 bulan. Harapannya, sih, risiko Zizy kena kuman jadi berkurang. We realize we can’t protect her form everything.


Masalahnya gue nggak pengalaman soal air purifier. Merk apa yang bagus sekaligus terjangkau? More research necessary, I guess.

Nebulizer

Zizy ini ya kok bolak-balik batuk. Dokternya udah bilang sih anak dengan kondisi seperti Zizy justru bakal rentan ISPA. Bener ajeeeee….. Sebulan bisa tiga kali ke RS karena batuk gak abis-abis. Biasanya Zizy diterapi inhalasi. Lama-lama berasa juga ya sekali inhalasi puluhan ribu. Makanya kita berniat beli ultrasonic nebulizer buat di rumah. Kenapa ultrasonic, soalnya uap lebih tebel dan lebih enak pakenya. Kalau kompresor Zizynya mesti didudukin tegak gitu, kalo nggak uapnya nggak keluar. 


Syringe Pump

Yang ini sih masih nomor sekian, terakhir bahkan. Soalnya siapa tahu Zizy besok-besok nggak butuh NGT lagi (aminnnnnnn…) jadi nggak minum pake selang lagi. Syringe pump ini gunanya buat masukin susu/cairan dengan interval waktu tertentu. Kalau pakai feeding burret kan mesti diliatin, kadang suka macet. Kalau ini tinggal set, bisa ditinggal. 

Yang ini feeding drip. Diatur lajunya pakai tombol (atau apalah itu) yang di tengah selang. Mesti dikira-kira.


Yang kepikiran baru tiga benda itu sih. Semoga ada rezekinya. Lebih bagus lagi kalau Zizy akhirnya gak butuh alat-alat ini lagi 😁😁

I’ll Protect You, But Maybe Not Excessively 

Sebenarnya, punya bayi model Zizy yang agak beda dari bayi pada umumnya, harusnya melegitimasi (halah) saya untuk jadi emak parno. Gimana nggak, ini bayi rentan segala-gala 🤣 Karena kondisi labio-palato schizis, Zizy gampaaaaaaang banget batuk atau pilek. Bisa tiga bulan batpil melulu bolak-balik. Namanya juga bungsu, kakaknya tiga. Kebayang kan kalau lagi oper-operan virus di rumah 😅 Si baby ini pasti yang paling menderita. Herannya kok ortunya (sok) santai. Suami sih udah pesen harus ekstra bersih untuk segala hal yang berkaitan dengan Zizy. Me? Bersih sih iya diusahain tapi nggak yang sampe OCD gitu. Di rumah juga yang pegang Zizy ada mbaknya. Udah diajarin supaya rajin cuci tangan dan disediain hand sanitizer. Orang lain pasti ngebayanginnya Zizy sangat diproteksi dan selain mamanya nggak ada yang boleh pegang, mandiin, siapin susunya dll. Eng, nggak gitu tuh 😅 Yes, Zizy butuh perhatian lebih tapi sejauh ini nggak lebay sih. Beda dengan kakak-kakaknya, oh jelas. Misalnya kalau dulu anak-anak batuk, paling kita jemur aja, banyak minum air putih. Kalau Zizy batuk? Lari ke dokter 🤣 Minimal inhalasi. Tapi ya emang perlu sih. Dulu pernah batuk kita home remedy-in aja hasilnya radang paru-paru. Parah kan 😅 

Namanya bayi, kulitnya juga pasti lebih sensitif. Anak-anak saya apalagi. Semua punya riwayat kulit sensitif karena papanya punya alergi. Aria apalagi, paling parah kayaknya dia dulu. Bayi rempong banget deh. Keringetan dikit merah-merah kulitnya langsung. Diaper rash? Pernah bangettttttt sampe anaknya jerit-jerit karena perih. Huhuhuuuu… Zizy juga sama. Walau nggak separah Aria, kulitnya tetap termasuk sensitif. Mesti rajin ganti bajunya kalau keringetan dan diaper juga masih pake yang premium soalnya cari yang lembut. Alkisah, Zizy pulang dari rumah sakit sempet diare. Doh, itu tiap abis minum susu (yang mana per 3 jam) pasti BAB. Bisa ditebak, merah deh kulit diaper area-nya. Kalau udah gini ya diaper cream jadi toiletries wajib pakai. Nah, soal diaper cream, dulu ada dokter anak yang bilang pakai krim apa saja yang ada zinc-nya. Maksudnya, nggak usah ngoyo yang impor dan merk tertentu. Etapi, pernah coba zinc cream (khusus buat bayi lho padahal) ternyata nggak nolong buat diaper rash. Emang cocok-cocokan juga kali ya. Zizy pas kena diaper rash ini dikasih Sleek Diaper Cream. Kakak-kakaknya belum ada yang coba merk ini soalnya dulu belom ada 😄 Syukurnya cocok dan oke buat diaper rash. Merasa aman juga soalnya udah dermatologically tested (penting!). Biar gimana, Zizy ini “spesial” dan emaknya ini mesti hati-hati makein produk apapun. 

Jadi, kalau dibilang sekarang saya jadi parnoan setelah ada Zizy, nggak juga ya. Lebih khawatir, iya. Hanya saja bentuknya saya ubah jadi lebih hati-hati, awas dan teliti. Saya juga mempersiapkan diri dengan “arsenal” yang bisa membantu meminimkan khawatir ini. Di rumah saya sedia hand sanitizer ukuran gede kayak di rumah sakit. Saya dan suami sudah rencana mau cari air purifier, siapa tahu bisa membantu kesehatan Zizy biar nggak bolak-balik sakit. Nebulizer juga sudah ada di daftar kami, biar nggak bolak-balik ke RS buat inhalasi. 


Untuk kulit Zizy, saya pakai sabun bayi yang mild dan mengandung ekstra pelembap. Kalau diaper rash mah gampang, serahin ke Sleek aja. Kalau udah ada “senjata-senjata” ini, parno bisa jauh-jauh, deh. 😉 

5 Things I Won’t Miss From My Pregnancy 

Foto dari Dreamstime.com

Buat yang kenal saya, bukan rahasia lagi kalau dua kehamilan terakhir saya semuanya tidak terencana. They’re gifts 😁. Jadi, sebenernya bukannya doyan banget hamil jadi sampe empat kali gini. That being said, I quite enjoy being pregnant. Ya namapun  kalo udah kejadian, kan, better go with the flow. Go make lemonade, gitu. Tapi semenyenangkan (is this correct grammar?) apapun hamil itu, ada beberapa hal yang sangat sangat sangat saya gak suka banget (lebay alert) dan hanya terjadi kalau (saya) lagi hamil. 

  1. Clogged ears. Asliiiiiiiiii benci banget sama telinga tersumbat ini. Berasa bloon karena udah kayak budeg, susah denger omongan orang. Saya pernah mesti dicolek sama lawan bicara karena nggak denger pas dipanggil. 😭 Kenapa sih bisa tersumbat telinganya? Ternyata, karena pengaruh hormon saat hamil, bisa terjadi build-up cairan dalam tubuh. Cairan ini bisa juga menyumbat telinga. Kedengaran remeh tapi it’s so annoying! All you can hear is yourself talking and breathing. Ugh! Sure enough, begitu lahiran, normal lagi telinganya. Lega banget bisa denger normal lagi. 
  2. Fatigue. Sebenernya ini salah sendiri, sih. Kondisi tubuh sebelum hamil dan aktivitas selama hamil berpengaruh sama seberapa fit badan (yaiyalah). Berhubung di sini modelnya couch potato, doyannya tidur gak pernah olahraga, begitu hamil gede mulai deh muncul rasa lelah. Baru jalan sebentar udah capeeeekkkkk banget rasanya. Makin gede perut makin susah bawa bebannya. Kaki gampang sakit, napas juga sampe susah. Kan sebel padahal pengen (banget) jalan-jalan tapi belom apa-apa udah capek dan kepingin pulang. Nggak sinkron jadinya.
  3. Lower back pain. Ini juga kejadian pas udah hamil agak gede. Terutama ganggu selama sedang kerja di kantor. Seharian duduk terus, bikin pinggang pegel dan tulang ekor sakit. Makanya waktu kerja suka pindah duduk di sofa supaya bisa agak miring-miring dan bisa pindah-pindah posisi. Kalau cuma duduk biasa lama-lama tulang ekor berasa sakit banget. Etapi, kelar hamil ternyata masih ada nih sakit kalau duduk kelamaan. Kalau kata nyokap kemungkinan sih syaraf, soalnya beliau juga ngalami walaupun pencetusnya adalah cedera main boling.
  4. Skin problems. Again, karena hormon, kulit jadi bertingkah. Beberapa area di wajah tiba-tiba jadi kering (muncul dry patches) tapi tetep (bahkan lebih) jerawatan. Pusiiiiiinggggg karena skincare jadi berubah. Akhirnya cut down produk yang dipake, selain karena ada yang nggak boleh dipake juga karena meminimkan reaksi kulit yang lagi rewel gegara hormon. 
  5. Migren. Entah kenapa pas hamil kok kumat migrennya. Buktinya setelah lahiran jauh lebih mending nih. Kumatnya bisa tiap hari lho pas hamil itu. Sebel banget pas lagi meeting, tapi kepala suakit banget nggak bisa konsen. Belom lagi kalo utang report banyak 😭 M e n d e r i t a.

Di kantor kebetulan ada temen yang hamil bareng, jadi bisa bandingin pengalaman. Migren dan sakit pinggang/punggung adalah yang paling sering mengganggu. I wonder if others also experienced these… 

Night Thought

Just because it’s not “my first rodeo” doesn’t mean I don’t worry about the whole process. Even without the special circumstances we’ll be dealing with, it’s still a daunting task and I experienced it with the previous three. 

So, yeah, I’m a bit scared. Though I’m a go-with-the-flow kind of person, the fear is there and I’ll deal with it when the time comes. 

Emoji! ;)

Sebenarnya sudah beberapa bulan yang lalu baca-baca artikel soal studi yang menemukan bahwa emoji interpretasinya bisa berbeda-beda, baik across platform atau yang platform sama (phone OS, maksudnya). Yes, ada studinya, kalau mau baca antara lain ada di sini, sini, sini. Berhubung biasanya memang cuma pakai satu jenis handphone aja (dan biasanya sama suami merk sama, sok kompak), jadinya selama ini nggak sadar kalau emoji itu di OS berbeda bisa terlihat beda jugak. Hahahaaa katro. Ya ini understandable, lah. Gambar beda pemahaman juga potensi beda.

Tapi ternyata bisa juga gambar sama dipersepsi beda. Again, sebenernya bukan hal yang aneh kalau kita bicara lintas kultur. Facial expression, apalagi yang sudah dalam bentuk gambar ala emoji, memang sangat bisa dipersepsi berbeda. I wasn’t expecting, though, that it could happen very near me. Baru kemarin banget ngalamin perbedaan persepsi ini.

emoji

Nama disamarkan demi yang terlibat nggak tengsin. Tapi dari pembicaraan di atas ada dua orang yang punya persepsi bahwa emoji tersebut adalah emoji sedih/menangis. Btw emoji yang dimaksud adalah yang ini: 160x160x23-face-with-tears-of-joy.png.pagespeed.ic_.Z_mT_BlOxX.  I thought it was obvious what this emoji conveys. Walau ada air mata, tapi ekspresinya jelas ketawa. So this is a laugh-out-loud, tears-streaming happy laugh emoji. Namun terbukti dari conversation di atas nggak semua orang berpikiran sama. Pernah baca juga status update seseorang yang ngingetin hati-hati jangan pake emoji ini untuk menanggapi berita duka cita. Karena kan dianggap kita ngetawain kesedihan orang lain dong? Disaster. Padahal maksud kita nggak begitu.

Emoji yang (mungkin) awalnya dibuat untuk transcend language barrier, ternyata tetap punya potensi mispersepsi. Makanya, memang mesti hati-hati untuk bentuk komunikasi tulisan (termasuk emoji). Mesti bijak juga dalam menginterpretasikan tulisan orang lain. Kadang kitanya aja baper padahal mungkin penulis nggak bermaksud demikian.

Stay wise. 😉

 

 

Di Saat Sedang Berduka…

Bulan lalu keluarga baru saja mengalami kehilangan. Nyakciknya anak-anak akhirnya berpulang. Walau sudah cukup lama sakit tetap saja kami keluarganya tak menyangka. Anak-anak juga sedih banget. And honestly I can’t imagine how my husband feels and deals with it.

Buat saya dan suami, ini adalah kali pertama kami harus menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan “administrasi” dan lain-lain yang terkait dengan kematian. Sure, over the years family members passed away but never one so close to us. Yang terdekat adalah waktu nenek dan kakek saya meninggal beberapa tahun lalu. Namun karena masih ada anak-anaknya (my mom & her siblings), jadinya kita, cucu-cucu, nggak terlalu terlibat dalam detail selama pemakaman dan pengurusan ina-inu. This is my first. Yang lumayan bikin miris adalah, kok ada (banyak) cara/jalur untuk minta biaya dari keluarga yang ditinggalkan ya? Ini terutama di pemakaman sih.

Biaya resmi untuk tanah makam (di Jakarta) sebenarnya nggak mahal, sekitar 100.000 per 3 tahun kalau merujuk ke Peraturan Daerah no. 3 tentang Retribusi Daerah. Itu sewa tanah makam ya. But I’m talking about the funeral. Kemarin itu Papa yang bantu urus pemakaman karena kita masih di RS nunggu jenazah. Untuk “acara pemakaman”, dikenakan biaya 1.5 juta. Sudah termasuk tenda dan kursi, katanya. Benar, sih. Tapi tendanya ya rombeng, kursi 4 buah tanpa jok alias sudah rusak sak sak. Lebih parah lagi, untuk bunga (literally 3 small shallow baskets, with a thin layer of petals on them), charge-nya 800.000. Delapan ratus ribu.

Selesai? No. Selesai pemakaman, saat kerabat sudah mulai pulang, gue mulai didekati berbagai pihak. Ngapain? Minta uang, tentunya. Oh, sure, semuanya “sukarela”, kok. Untuk yang gali makam, pasang tenda (yang harusnya sudah all-in ya dengan “biaya pemakaman” di atas, IMHO), dan yang berdoa. FYI untuk yang berdoa ini, kita nggak minta dan nggak mau sebenernya. Sudah ada yang memandu pemakamannya dari Yayasan Bunga Kamboja, dan suami gue tidak mau ada doa bersama. Tapi tiba-tiba orang ini di tengah-tengah langsung nyelak “mimpin” doa. So callous and impolite, I think. Ya sudah lah kita kasih semua pihak tersebut. Bahkan ada keluarga yang masih di dekat makam, ngobrol, disamperin ibu-ibu yang bersih-bersih makam. Minta uang lagi. Ya tentu dikasih.

Ya sudahlah. Sudah lewat dan kita sudah rela juga. Pun, dari keluarga dan teman banyak banget yang kasih bantuan, alhamdulillah. Nulis ini hanya untuk sharing. Siapa tahu ada juga yang belum pernah ngurus pemakaman kayak saya, jadi kan tahu ada beberapa pengeluaran yang mungkin bisa dibilang tak terduga. Jadi nanti nggak kaget. Kalau merasa jumlah yang kami bayar terlalu mahal, berarti nanti kalau mengalami, bisa jadi benchmark. Jangan mau bayar segitu. 😀 Kami sih nggak kepikiran samsek saat itu. Yah, namanya lagi galau…

Oh, btw, beberapa hari kemudian saat kita balik untuk pesan nisan, bayar lagi sejutaan untuk nisan dan rumput 😀

 

 

How To: Menahan Diri Dari Belanja Skincare Berlebih

Para beauty junkie pasti bisa mengerti gimana rasanya pas liat skincare baru di IG blogger atau IG olshop langganan. P.e.n.a.s.a.r.a.n. Rasanya, langsung pengen beli juga dan  berharap hasilnya muka sekinclong sang blogger kece. Nyatanya? Menemukan skincare yang cocok dan works for you itu hampir sama susahnya dengan menemukan ART yang cocok dan rajin serta jujur lagi pandai menabung. Banyak banget pertimbangan seperti, ada ingredients yang nggak cocok/alergi atau nggak, sesuai sama jenis kulit atau nggak, beneran butuh sesuai skin concern apa nggak, clash dengan produk lain yang sudah dimiliki atau nggak, dsb. Intinya gini deh, beli skincare nggak boleh kalap. Masalahnya, gimana caranya men-distract otak yang udah kepikiran pengen skincare baru? Nah, kebetulan saya baru saja mengalami mupeng banyak banget skincare tapi berhasil ngerem dan beli cuma satu (please don’t laugh. Beli satu udah achievement banget, ini).

Caranya gimana? Ada beberapa alternatif, nih.

  1. Cek lemari baju dan sepatu anak. Jangan-jangan, piyamanya udah kesempitan? Kaus kakinya bolong, atau sepatunya sempit/rusak. Anak-anak tumbuh cepet, lho. Bisa aja kita nggak sadar mereka udah perlu baju baru. Nah, daripada buat skincare, beliin dulu deh piyama supaya perutnya nggak kena dingin AC gara-gara piyamanya udah pendek. Hehehehe….
  2. Cek rumah dengan teliti. Itu keran bocor udah diperbaiki, belom? Musim ujan, lho, nih. Atap bocor walau cuma kedengeran netes-netes aja harus segera diperbaiki, kalau nggak nanti makin parah dan eternit bisa jebol. Fix that.
  3. Cek STNK kendaraan. Kapan waktunya perpanjang? Udah harus bayar pajak lima tahunankah? Mending duitnya sisihin buat perpanjang STNK. Ye gak?
  4. Cek segala pajak tahunan. Sudah ada dana untuk bayar masing-masing pajak saat tenggatnya nanti? Kalau belum dan harus dicicil, ya, mending uangnya lari ke sana.
  5. Anak udah sekolah? Ada uang tahunan yang harus dibayar nggak? Atau, cek apakah ada kebutuhan sekolah anak yang harus dibeli. Misal, untuk ekskulnya.
  6. Yang punya investasi reksadana, yakin nggak mau top up instead of buying that new moisturizer that you probably don’t really need? 
  7. Cek bucket list. Masih nabung buat trip impian ke Alaska (silakan ganti dengan nama tempat impianmu. Ini gue juga bingung kenapa nulis Alaska wong nggak tahan dingin)? Ya, mungkin duitnya mending masuk ke pos itu?

The idea is, think of what other useful things you could do with your money. Tentunya yang prioritasnya lebih tinggi, ya.  Nah, gimana kalau ternyata udah memikirkan segala macem keperluan, ternyata udah ke-cover semua? Oke, pertama, sujud syukur dulu, gih. Hahahahaaaa… Lucky you.

When all else failremember to always do thorough research before purchasing new skincare. Baca aja sebanyak-banyaknya soal produk yang diinginkan. Kadang bisa, lho, kelamaan mikir dan riset malah jadi ilfil dan nggak jadi beli. Hehehee…. Silakan komen soal dosa terbaru urusan belanja skincare. I need to know that I’m not the only one :p

 

Kiri: Cosrx AHA (beli tahun lalu) Kanan: Trilogy Rosehip Oil (dosa terbaru)
 
 

[Eats&Treats] Anomali’s Eggs Benedict 

I can’t remember the first time I started obsessing about Eggs Benedict. It might have been an episode of Hell’s Kitchen or something. I vaguely remember Gordon Ramsay. Perhaps it was MasterChef. Point is, I was fascinated by the way Chef Ramsay describe how a “proper” eggs benedict should be. Texture of muffin, consistency of classic hollandaise sauce, and of course, the pièce de résistance , the perfectly poached eggs.

So began my journey toward finding great Eggs Benedict. To my chagrin, restaurants that serve Eggs Benedict are typically on the higher end of the price point. *sigh* So I haven’t been able to try out as many as I would like. My first few tries are disappointing to say the least.

One day husband and I decided to reward ourselves for heavens-know-what and go breakfast-dating. As usual, we drove toward Kemang area. On a whim I decided to stop at Anomali Coffee. While parking, I consulted the ever-trusty Zomato to scout menus. If you read my post about Mockingbird restaurant you’d recall that I always have difficulty deciding what to eat so consulting ahead will help. In short, I found that they have Eggs Benedict so I knew what I would order!

We both ordered some fancy-named iced coffee to go with my Eggs Benedict. Husband already had hearty bubur ayam for breakfast so no meal for him. I had to wait for over 30 minutes for the eggs to arrive! Lucky for the restaurant I’m a patient person and rarely complain about these things. After waiting and even changing seats, it finally came. The looks didn’t disappoint.

How about the taste, though? I’m no food expert but this taste pretty good. Again, not a classic Eggs Benedict since there was no muffin. They used croissant instead, which I like. Eggs were not poached. I don’t know how they did it but the yolk was not blanketed by the whites. The yolk should be mostly runny. It wasn’t. 😦  The sauce tasted nice but as you can see from the photo, the sauce was not creamy and smooth like a Hollandaise is expected to be. It was grainy. Fortunately the smoked salmon was delicious. It was not a bad dish, really. I just felt like it wasn’t a “proper” one the way it is described on every cooking show. I’m still looking for that classic Eggs Benedict.

Zaq’s First Step

Ini sebenernya rada basi, sih. Soalnya ide awal post ini adalah pas hadir di baby shower-nya Cathy Sharon Agustus lalu. Nggak, bukan temen gue si Cathy sampe diundang baby shower-nya. Urusan sama Mommies Daily ini. Anyway, long story short, di acara ini juga dijelaskan soal campaign Fisher-Price yang judulnya #LangkahPertama. Basically, highlighting the importance of baby’s milestone especially his first step and what stimulation we can give him.

Pulang dari acara ini gue mikir, memang tiap milestone itu penting. Nggak usah terlalu ngotot anak harus bisa di umur sekian, tapi jangan dicuekin juga. Pernah juga dulu denger waktu talkshow dengan dr. Attila  waktu Aria masih bayi, beliau cerita ada anak yang mengalami kesulitan motorik halus saat usia sekolah, ternyata ada milestone yang tidak tercapai saat bayi. Karena motorik kasarnya kurang berkembang, maka motorik halusnya terpengaruh juga.

Bulan September lalu Zaq usianya setahun. Belum bisa jalan. Fix nervous. Kakak-kakaknya (duh, I can’t help but compare. At least benchmarking) di usia setahun minimal beberapa langkah, lah. Yang bontot ini kok hati-hati banget. I shouldn’t have to worry too much, karena sebenarnya terlihat dia bisa, kok. Kalau berdiri, sudah stabil. Jalan juga harusnya bisa hanya saja dia sangat hati-hati dan selalu maunya merambat/pegangan. Padahal kelihatan pegangannya cuma basa-basi. Tapi tetep aja nggak mau jalan sendiri. Kalau harus ke area yang nggak ada tempat pegangan, pasti langsung drop down dan merangkak. Kombinasi males, hati-hati dan takut. Gregetan akuh.

Ditambah dengan “masalah” gigi belum tumbuh, badan yang kurus, preferensi tekstur makanan yang masih lunak, diboyonglah si bayi untuk konsultasi ke dokter anak. Eiya, setelah biasanya kita main cap-cip-cup aja dokter anak di rumah sakit manapun asal terima asuransi kantor, akhirnya kita menemukan yang juga cocok personality-wise! Hore! Setelah dicek cukup thorough (minus segala blood test, tentunya), dokternya sih berkesimpulan belum perlu ambil tindakan apa-apa, kecuali melatih untuk makan tekstur kasar. Soal jalannya juga, dilihat sebenarnya sudah kuat. Ya itu, anaknya terlalu hati-hati. Perlu latihan saja. Gigi juga akan terbantu untuk erupt kalau makannya lebih keras teksturnya. Lah, ini PR. Soalnya anaknya suka muntah kalau makanannya nggak dihalusin. Padahal kalau makan biskuit, bisa. Doh.

Akhirnya orang tuanya hanya bisa sabar dan memantau. Meng-encourage juga, lah. Kadang kayak “maksa” supaya dia nggak pegangan saat jalan. Mesti sabarrrrr… Tiap anak memang beda-beda juga perkembangannya. Akhirnya sebulan setelah konsultasi ke dokter, si bayi mulai lebih mantap langkahnya. Kadang masih suka merangkak kalau merasa terlalu jauh atau capek, dan jalannya pun masih ala zombie. Progress, nevertheless.

Nah, sekarang tentunya sudah lebih lancar jalannya. Semakin dia pede dan bisa, semakin sadar bahwa jauh lebih enak jalan dibanding merangkak (dengkul sakit, cyin). Jalannya masih zombie, sih, and slow. Baby steps, literally. 😀

Tapi memang benar yang dikatakan psikolog Vera Itabiliana di acara Fisher-Price waktu itu. Stimulasi juga memegang peranan untuk “pencapaian” milestone anak. Kalau gue sih menyikapi soal milestone begini aja, dijadikan sebagai rough guideline instead of checklist yang harus dipenuhi. Misalnya soal jalan ini. Normalnya memang usia setahun sudah bisa jalan. Kalau belum setahun udah bisa, alhamdulillah. Nggak pusing. Pas ultah masih merangkak? Take a closer look. Berdiri udah bisa belum? Rambatan? Jalan sambil pegangan? Titah? Kuncinya, observe, observe, observe.  Bila dirasa perlu, konsul ke dokter.

Akhir kata, silakan nikmati foto-foto dari baby shower-nya Cathy 😀