Smile! Pampers Gathering: Senyum Pagi Bayi No. 1 di Indonesia

Rasanya baru kemarin hadir di gathering Pampers. Ternyata sudah setahun, ya. Iya, sih, waktu hadir tahun lalu pas masih hamil Zaq. Sekarang, anaknya udah enam bulan. Pas banget sama peluncuran produk baru Pampers: Pampers Baby Dry Pants.

Hari Kamis lalu, Pampers kembali mengadakan gathering bersama, who else, Mommies Daily. Ngapain aja di sana? First and foremost, ada paparan dari perwakilan IDAI, dr. Rini Sekartini tentang pentingnya kualitas tidur untuk anak. Ada satu poin yang menarik, yaitu bahwa anak usia 4 tahun sudah tidak terlalu membutuhkan tidur siang, dengan catatan tidur malamnya berkualitas sehingga tubuhnya tetap mendapat manfaat tidur. Udah tau, dong, kalau tidur malam itu waktu regenerasi sel? Bayangkan pentingnya untuk anak yang sedang tumbuh. On the other hand, bayi baru lahir butuh tidur 16-20 jam/hari. Makanya Zaq bobo melulu kerjanya, dan mamanya ini juga seneng-seneng aja kalau anaknya tidur.

Ada survei tentang tidur yang hasilnya dipaparkan dr. Rini kemarin, salah satu poin hasilnya adalah beberapa masalah tdiur pada balita di Indonesia. Ternyata, nih:

  • 44.2% anak usia di bawah 3 tahun punya masalah tidur:
    • jumlah jam tidur malam < 9 jam
    • terbangun malam hari > 3 kali
    • lama terbangun malam hari > 1 jam
  • 72% orang tua menganggap masalah tidur pada bayi dan batita bukan masalah atau merupakan masalah kecil.

Okay, time to reflect. Pertama, soal lama jam tidur. Orangtua bekerja harus lebih hati-hati menurut saya. Saya merasa kalau jam tidur anak berhubungan dengan jam tidur orangtuanya. Pengalaman saya, batita bisa kekeuh menunggu orangtuanya pulang, lho, sebelum tidur. Semakin lama kita pulang, bisa jadi semakin malam mereka tidur. Dulu, saat saya masih di rumah, Aria tidur jam 8 malam tiap harinya. Rory di usia yang sama, tidurnya jam 9 malam, dengan kondisi saya bekerja dan pulang sekitar jam 7 malam. Setelah saya pulang, bersih-bersih, kami main dulu, atau ngobrol. Tertunda, deh, jam tidurnya. Jadi, menurut saya ada efeknya apakah orangtuanya bekerja atau di rumah. Syukurnya kalau dihitung, jam tidur anak-anak saya masih cukup. Paling malam, mereka tidur jam 9.30 malam, bangun jam 7 pagi. Tapi berarti harusnya “dipaksa” untuk tidur jam 9, nih, paling telat. Kadang-kadang suka pada bangun kepagian.

Yang masih suka bangun malam tentunya si Zaq. Kakak-kakaknya jarang, kecuali pas lagi sakit, suka bangun karena batuk-batuk. Nah, kalau Zaq, udah pasti minimal 2x terbangun karena mau nyusu. Tapi mewek sebentar aja, sumpel langsung bobo lagi, hahaha… Syukurnya Zaq pake Pampers, ngga bocor semaleman jadi ngga terbangun akibat diaper basah. Sangat membantu meminimkan terbangun malam hari. Anaknya juga pengertian, dia biasanya pup jam 6 pagi, jadi ganti diaper pas pup itu hehehe…

dr. Rini juga mengingatkan bahwa kalau lihat tanda-tanda di atas, jangan disepelekan. Tidur itu penting banget, terutama buat anak-anak. So, do what you can do to minimize their waking up at night and make sure they put in enough hours to sleep.

Ngomongin tidur malam, memang akhirnya ngomongin diaper kalau buat bayi, ya. Di acara ini diperkenalkan juga Pampers Baby Dry Pants baru. Inovasi terbarunya adalah adanya gel penyerap super (super gel) yang akan menyerap pipis bayi dengan cepat, dan menguncinya sehingga anti bocor. No worries, gel-nya terbuat dari bahan yang aman bahkan bagi bayi. Pampers Baby Dry Pants ini tahan 12 jam, lho. Ditambah lagi ada lapisan losionnya untuk menjaga kulit bayi supaya tidak iritasi dan lebih kering, ditambah pori di bagian belakang untuk membantu sirkulasi. Ada demo produk juga, terbukti Pampers Baby Dry Pants menyerap cairan secara cepat dan permukaannya kering! Berhubung lihat dengan mata kepala sendiri, saya percaya.

Para Mombassadors Pampers, Donna Agnesia dan Artika Sari Devi, menceritakan pengalaman mereka menggunakan Pampers Baby Dry Pants baru ini. Mereka mengakui anaknya bisa tidur hingga 12 jam tanpa merasa kebasahan, sesuai klaim Pampers. Tentunya anak pun bangun dengan ceria. Lha, kita aja yang dewasa pasti cranky kalau kurang tidur. Kalau tidurnya cukup, bangun-bangun pasti senyum-senyum hepi :D.

Nah, makanya Pampers juga membuat kontes foto, nih. Mulai sekarang coba perhatikan anak saat bangun pagi, lalu abadikan senyumnya. Ikutan, deh, di kontes Senyum Pagi Bayi No. 1 di Indonesia. Cukup upload saja fotonya ke https://www.everydayme.co.id/keluarga/kegiatan-anak/kontes/pampers-senyumpagibayino1 Foto pemenang bisa tampil di LED Billboard Pampers Mal Taman Anggrek dan hadir di VIP launch bulan Mei nanti. Yuuukk ikutan 🙂

  

Breastfeeding Bersama Zaq

Kalau sempet baca post yang ini, mungkin keliatan betapa saya deg-deg-an mau kerja lagi abis melahirkan. Kekhawatiran paling utama jelas masalah stok ASIP. Di bulan kedua kembali kerja, memang terbukti, stok ASIP habis, jadinya Zaq minum ASIP yang lumayan fresh, perahan hari sebelumnya. Ya, anggep aja ini sisi positif-nya, lah. Nggak minum ASIP rasa freezer :p

Ada suatu hari saat pagi-pagi udah bener-bener bete karena hari sebelumnya cuma bisa menghasilkan 3 botol ASIP. Gimana coba, 300ml buat stok 10 jam? Kan nggak mungkin. Terpaksa merelakan Zaq minum sufor. Jadi, kira-kira Zaq usia 5 bulan saya “menyerah” dan akhirnya beli sufor sekaleng. Nggak tega membayangkan bayi gembul yang doyan minum ini teriak-teriak karena kelaperan. Saya memilih dia minum sufor daripada anaknya harus menahan lapar. Laper kan nggak enak. Saya aja bisa muntah kalau telat makan (prone to masuk angin, emang).

Akhirnya Zaq emang minum sufor. Nggak tiap hari, saya instruksikan hanya kalau ASIP habis. One day, he drank half a bottle (50 ml). Hari lain, minum 100 ml karena saya pulang malam. Udah. Lho? Iya, sampai Zaq 6 bulan, dia cuma minum dua botol sufor 😀 Ada aja yang bikin sufor ini akhirnya nggak diperlukan walau stok ASIP kejar-kejaran. Mulai dari saya yang kerja di rumah seminggu karena nggak ada pengasuh, hingga anaknya tidur lama karena capek main jadi minumnya juga ngga banyak (ditebus saat saya pulang, nyusunya rakus).

Bersyukur banget, walau selalu deg-deg-an dan jungkir balik mompa (kalau meeting di luar, satu tas isi peralatan pumping harus ikut, selain laptop), akhirnya Zaq melalui masa ASI (yang nggak terlalu) eksklusif hanya dengan kebobolan dua botol sufor. Jadi harusnya dulu nggak perlu beli sufor, dong? Entar dulu. Psychologically speaking (at least sepanjang kesotilan saya), sufor ini ada manfaatnya. Karena ada si sufor ini, pas ngantor nggak stres mikirin ASIP di rumah. Nggak khawatir Zaq kelaperan. Nggak stres = pumping lancar. Malah lumayan nambah dikit hasil pumping tiap harinya. Jadinya besoknya sufornya ngga kepake. Hehehehe… Aneh tapi nyata.

Sekarang, Zaq udah makan! Yeyeyeyeyyyy! Lebih santai lagi jadinya, pumping makin rileks juga. ASIP juga ada terus buat si gembil. Walaupun, jeng-jengggggg, begini muka anaknya pas disuapin bubur beras merah:



Hahahahahaaaa Happy first meal, Zaq! Besok makan alpukat aja yaa… 

It’s The “Little” Things…

Beberapa hari yang lalu beliin mainan buat anak-anak. Duh, mainan anak-anak hare gene harganya lumayan yaaaa… Memang perlu budget sendiri idealnya. Supaya nggak laper mata dan sering beli mainan yang sebenernya anaknya nggak terlalu suka juga. Kalo ada budgetnya kan lebih dipikirin apa yang mau dibeli.

Rory baru dibeliin buku cerita. Nah, bukunya ini ada suaranya kalo dipencet, ada 3 suara berbeda. Seneng dong anaknya. Pas dikasih mukanya juga sumringah gitu. Ini nih yang bikin ketagihan beliin mainan buat anak-anak. Their happy faces.

The next day, gue lagi buka pouch makeup Female Daily (betewe, udah pada punya blom? Keyen lho 😉). Pouch-nya itu ada bungkusnya dan dipitain.

2015/01/img_2936.jpg

Pas buka bungkusnya, lagi ada Rory di samping. Pitanya iseng gue iketin ke tangannya. Gue bilang ke Rory, sini tangannya dipitain biar cantik. 😝

2015/01/img_2937.jpg

Ternyata, Rory suka banget. Dia sampe lonjak-lonjak seneng. Katanya cantik banget pitanya. Lalu langsung lari ke bawah pamer pita barunya ke mbak-mbak (papanya lagi nggak ada).

Just goes to show, anak-anak nggak perlu barang mahal. Hal-hal sederhana bisa bikin mereka seneng hanya karena kita, orang tuanya, yang melakukannya. Kadang hal ini yang dilupakan. Mesti berkali-kali mengingatkan diri sendiri bahwa membuat anak bahagia nggak harus dengan mainan mahal atau liburan mewah. Waktu dan perhatian orang tua jauh lebih berharga buat mereka. Soalnya kadang gue masih suka merasa “kurang” sebagai ortu karena nggak selalu bisa belikan mereka barang yang mereka minta. Padahal ini kan ngaco, ya? They need me, not my money. Being a parent is a lifelong learning, always with room to improve.

Siap-siap Kembali Ke Kantor!

Saat mulai menulis post ini, hitungannya H-7 kembali ke kantor. Kangen suasana kantor? Definitely. I’m lucky to have pleasant work environment. Kangen kerjaan? Sure. I like having work to do and use my brain. Walau tentu di rumah sambil baca novel sembari nyusuin juga menyenangkan. Nervous? Iya juga. Terutama soal ninggalin bayi di rumah. Meski ini anak ketiga, Zaq bakal jadi yang pertama ditinggal di rumah saat masih menyusui eksklusif. Aria dan Rory “beruntung” karena waktu mereka bayi, I was a stay at home mom. Nyusu semaunya dan sepuasnya, kalau mereka.

Ibu bekerja tentu tahu yang harus disiapkan sebelum cuti bersalin habis adalah stok ASIP. Nah, karena kurang pengalaman pumping inilah, di H-7 ini stok ASIP di freezer paling cukup buat 2 hari. Iya, dua hari saja. Kebayang ini pasti kejar-kejaran stok selama 3 bulan berikut. Deg-degan juga ini. Bukannya nggak mompa, masalahnya anak cowok ini nyusunya kuat banget nget nget. Boro-boro mau mompa, wong disedot terus. Paling sehari dapet 1 botol 90ml, maksimal 2 botol. Duh, puyeng akuuuu… Menurut perhitungan, selama ditinggal kerja Zaq bakal ngabisin 5-8 botol @100ml sehari. How am I suppose to catch up to that? Rada mau nangis sih mikirinnya 😢.

Dari dulu memang nggak merasa sukses kalau pumping. Nyusuin langsung selalu terasa adequate. Yakin pasti cukup buat anaknya. Rasanya juga ASI nggak semua bisa keluar kalau dipompa, lain dengan kalau dihisap bayi. Kalau abis nyusuin itu pasti berasa “kosong”, sedang kalau dipompa, udah nggak ada yang keluar, tapi begitu dihisap bayi kedengeran anaknya minum. Berarti masih sisa banyak kan di dalem yang nggak kepompa? And, I was always intimidated by the milliliter markers on the bottle. Kayaknya kalo nggak nyampe sekian mili, langsung drop.

Semoga di not-so-distant future, cuti bersalin bisa 6 bulan. Jadi nggak puyeng selama masa menyusui eksklusif. Yuk, berdoa sama-sama. 🙂

Bottles, Y U no magically fill yourselves? :p
Bottles, Y U no magically fill yourselves? :p

Baby Needs Shopping

Persiapan barang-barang menjelang kelahiran Zack kemarin bisa dibilang minim banget. Namanya juga anak ketiga, banyak barang peninggalan kakak dan sepupu, jadi nggak semua harus beli. Bak mandi bekas Aria masih bagus banget walau udah 5 tahun lebih. Breast pump dan sterilizer juga masih berfungsi baik. Makanya, karena banyaknya barang lungsuran dan juga karena sibuk, belanja kebutuhan bayi tertunda terus. Akhirnya belanja baru tanggal 7 September. Anaknya lahir 9 September. Cutting it close, eh?

Yang dibeli juga hanya baju-baju dan sedikit perlengkapan, karena ternyata baju newborn udah disumbangin semua. Total yang dibelanjain juga a bit over 1 million, jauh bila dibanding anak pertama dulu hahaha…

Yang dibeli:
Popok kain
Baju lengan pendek + panjang
Celana pop + celana panjang
Perlak karet
Perlak gendong
Deterjen baju bayi
Bedong (cuma 1/2 lusin)
Alas ompol
Penampung asi
Wet wipes
Nasal aspirator
Diapers

Cuma, waktu hamil 6 bulan tiba-tiba kita ngga ada angin ngga ada ujan belu stroller baru. Hahahaha… Jadilah pengeluarannya gede jugak!

IMG_1700.JPG

Third Time’s The Charm?

Melihat jarak antara post terakhir dengan yang ini, harusnya keliatan kenapa. Yep, the baby’s here! Setelah bingung antara pengen buru-buru ngelahirin & apprehensive (wondering have I prep enough for the baby), akhirnya si bayi memutuskan udah bosen di perut. 😀

Kalau pernah baca post tentang lahirnya Rory, itu rasanya proses lahirnya udah lumayan drama deh. Mulai dari nggak ada pembantu sampe harus ngetok rumah ortu jam 2 dini hari, deg-deg-an dokternya nyampe apa nggak ke RS, sampe peristiwa balon ketuban. Ternyata, yang bungsu ini nggak mau kalah. -____-

Dimulai di hari Senin pagi hari pertama cuti. Sebenernya pagi itu mau ke kantor sebentar untuk handover kerjaan. Tapi paginya kok berasa ada rembesan. Dokter bilang bisa aja ketuban pecah dan kontraksi tanpa ada rasa sakit. Jadilah langsung ke RS (yang jauh dan macet). Sampai sana, cek segala macem dan… False alarm. Hehehe… Padahal udah bikin suami ngga ngantor segala. Handover kerjaan pun terpaksa reschedule.

Jadilah besoknya ke kantor, masih nyetir sendiri pulak. Pas lagi miting, ada rasa-rasa kayak kontraksi sih. Tapi kirain cuma mules biasa. Pas selesai miting, cek ke toilet ternyata ada flek. Welehhhhhh… Puyeng, dah. Syukur pak suami lagi miting di Thamrin dan bukan ngantor di Cengkareng. Kebayang kalo doi di Cengkareng, terpaksa minta anter temen kantor ke RS atau naksi. Akhirnya telepon minta jemput. Sembari nunggu jemputan, makan pizza dulu dari Toples hahaha… Dia traktir karena last day mau resign. Lumayannn… Makan pizza sambil nahan kontraksi 😂

Sesudah sampe RS, langsung dong monitor kontraksi dan detak jantung bayi di UGD. Cek pembukaan baru bukaan 1. Wah, kebayang masih lama nih. Gonna spend the whole night in the hospital, it seemed. Sekitar jam 2 siang pindah ke ruang observasi. Sepiiiii… Cuma sendirian di situ. Enaknya jadi pas ortu dateng bisa rada bebas ngobrol. Sempet makan pula. Ya, itung-itung nabung energi buat nanti.

Things really got going after around 4. Tiba-tiba aja kontraksi makin sering, dan setelah dihitung udah 3x dalam 10 menit. Bidan jaga pamit untuk telepon dokter dan kasih tau perkembangan. Ngga sampe 15 menit sesudahnya, kontraksinya udah nggak ketahan. Udah mau dorong aja rasanya. Wah, udah nggak bisa buka mata tuh. Udara yang tadinya rasanya dingin karena AC, jadi gerah karena nahan sakit sampe keringetan. Sure enough, setelah bidan cek, bukaan udah lengkap. Buru-buru lah ke ruang bersalin. Udah kayak adegan di Grey’s Anatomy. Suster dan bidan scrambling around getting everything prepped. Kayaknya sih ngga sampe satu jam di ruang bersalin, bayinya lahir. Dan, dokternya belum nyampe. Jadilah lahiran dibantu bidan doang. I didn’t really care at that point. Yang penting bayinya keluar. Toh, kalau lahiran normal begini yang kerja kan ibunya. Dokter pas selesai juga bisa, tinggal jahit-jahit. Untuk proses yang terbilang cepat, sakitnya luar biasa ini. Ampun deh. Kalau ngga inget mesti konsen buat ngejan, rasanya pingin nonjok suami orang. Dan waktu dorong yang terakhir, itu sakit bangettttttttt 😭😭😭😭 I was glad when the baby was out. Pas banget maghrib lahirnya. Lucu deh, Aria lahir deket adzan dzuhur, Rory menjelang subuh dan Zack si bungsu maghrib. Ya semoga pada rajin solat deh.

Now the fun part starts. Ever heard people say how each child is different? It proves true with my two kids. Aria yang pemilih kalau makan, Rory si pemakan segala, Aria yang suka nonton TV sedang Rory lebih suka pretend play. Seru juga ngebayangin gimana si Zack ini nantinya. All i know is we’ll take it one day at a time. Welcome to the family, Zack!

Getting Chubby (Feet)

Edema, described as normal swelling due to additional blood and body fluids, is what I’ve been experiencing this past week. The first time I realized this was when I noticed my rubber Melissa shoes had a tear! Asleee, saking kaki melebar sepatu jadi sobek! This is new for me because I didn’t experience any kind of swelling when I was pregnant with Aria nor Rory. Like, at all! Now, I see my feet and I don’t recognize them. Someone has stolen my feet and replaced them with balloon-feet! (insert horror emoticon)

I don’t mind the swelling. For what I’ve heard/read, it’s perfectly normal especially in the last trimester, as long as it is not sudden which may be sign of preeclampsia.  However, I didn’t know that some discomfort/pain would be involved! x___x One weekend I spent a lot of time on my feet. What else, doing shopping and mall-ing 😀 The following Monday, my right foot hurt! Putting pressure on it was painful. 😦 I spent the rest of the day in bed (was down with a cold anyway) and tried to always elevate my legs. I figured having to drive to work also contributed to the swelling. So for the rest of the pregnancy period (just a couple of weeks more) dear husband will pick me up at work. Hopefully this will help to keep swelling to minimum.

IMG_1645.JPG

Mengingat Cerita 6 Tahun Silam

Kira-kira 10 minggu lagi, seharusnya bayi di perut ini sudah siap untuk lahir. Emaknya gimana? Siap juga, nggak? Errr… Asli nervousnya sama-sama aja dengan waktu pertama kali mau lahiran dulu. Hamilnya boleh santai, tapi ngeri banget membayangkan apa yang harus dilakukan begitu bayinya hadir. Bisa nggak ya merawatnya?

Satu hal yang sudah mengganggu in the back of my mind saat Aria lahir 6 tahun lalu adalah alergi. Soalnya, bapaknya memang punya alergi. Dulu kalau makan udang pasti gatel-gatel. Juga kalau kena debu bersin-bersin hebat. Jadi, udah curiga kecil kalau anaknya bakal membawa bakat alergi. Kejadian, nggak? Iye banget. Aria sejak awal udah nunjukin tanda-tanda dermatitis atopi. Waktu itu sampai dokternya bilang gue harus diet. Hindari seafood, dairy, protein hewani. Asli mau mati rasanya. Cuma dua minggu akhirnya nyerah dan gue makan normal tapi dikontrol, dan yang heavily suspected alergen (such as udang) dihindari. Aria gampang banget iritasi kulitnya. Pipinya merah-merah, leher lecet, sampai bisul. X______X Karena ada DA-nya inilah Aria nggak bisa sembarangan dikasih produk untuk kulit. Syukurnya dari awal gue penganut minimal cosmetics untuk bayi. Nggak ada bedak dan aneka krim buat bayi. Mandi pakai sedikit sabun aja.

Waktu masih newborn, Aria gue pakaikan popok kain karena toh memang masih sering pup dan harus sering diganti. Etapi, ternyata nggak terhindar juga dari ruam popok lhoooo… Haduuuuu…. Karena memang kulitnya sensitif, sebentar saja kontak dengan pup atau lembap dikit aja, merah kulitnya. Suatu ketika bahkan sampai timbul bintik dan Aria sampai nangis jerit-jerit. Huuwwwaaaaa… Kalau soal lembap, memang yang harus diperhatikan adalah segera ganti popok kain setelah basah atau pakai diaper sekali pakai yang kering dan nyaman.

Ini juga yang dikonfirmasi oleh dr. Rini saat acara gathering Dari Kandungan ke Dunia yang diadakan Mommies Daily. Kulit bayi newborn itu sensitif banget. Apalagi yang ada kecenderungan DA. Makanya perlu banget dijaga. Antara lain yang perlu diperhatikan adalah popok bayi, pakaian, selimut, handuk, juga produk yang digunakan untuk mandi. Kalau memang nggak perlu, nggak usah pakai bedak, lotion dan minyak telon. Bedak yang terkena keringat malah bisa menggumpal dan membuat iritasi kulit bayi.

Pengalaman gue, waktu malam itu adalah waktu krusial. Kalau kekeuh pake popok kain, berarti harus ada yang siaga diaper duty karena nggak mungkin bayinya disuruh nunggu lama untuk ganti popok basah. Makanya, kira-kira usia 10 harian, Aria gue pakaikan popok sekali pakai saat malam hari. Selain membantu kulitnya kering lebih lama, gue juga bisa tidur :p Kalau siang masih pakai popok kain. Lagi-lagi, Aria nggak bisa pakai merek sembarangan  karena kulitnya yang ekstra sensitif itu. Harus yang menyerap dengan baik dan permukaannya halus dan nyaman.

Saat gathering kemarin ada Mbak Nita dari Pampers yang menjelaskan soal keunggulan Pampers. Yah, merek ini memang sudah terkenal pionirnya popok sekali pakai kan. Mereka kalau riset juga serius sekali. Pokoknya demi kenyamananan bayi. Berdasar hasil riset terbaru Pampers, kini hadir Pampers dengan teknologi #5starsprotection yang ditujukan untuk membuat kulit bayi (terutama newborn) tetap sehat dan terhindar dari masalah kulit, terutama ruam popok yang sering jadi momok. Dengan teknologi terbaru ini, ada keunggulan yang membuat bayi nyaman menggunakannya:

  • Lapisan pelindung agar kulit bayi tidak bersentuhan langsung
  • mengandung aloe vera untuk mencegah ruam popok.
  • Perlindungan agar kulit bayi lebih kering selama 12 jam sehingga tidurnya tidak terganggu
  • Permukaan selembut kapas yang nyaman dan juga berongga sehingga sirkulasi udara terjaga, ini juga mencegah kulit bayi lembap
  • Desain yang nyaman disesuaikan dengan tubuh bayi, lebih fleksibel terutama di area perut

Tujuan dibuatnya Pampers generasi baru ini tentunya agar ibu-ibu lebih tenang memakaian popok sekali pakai untuk bayinya. Kan, udah dijaga sejak dari kandungan, tentunya saat lahir kita juga terus mau melindunginya, dong? Just like in this video. Coba nonton, deh.

 Pampers dan Mommies Daily juga bikin lomba blog, nih. Hadiahnya iPad 4 (insert emot mlongo). Yang mau ikutan silakan klik 5starsprotection.mommiesdaily.com yaaaa…

 

20140710-112431-41071937.jpg

20140710-113909-41949628.jpg

Play Problem

Bisa dikatakan gue ini lahir dan besar di perkotaan. Kecuali periode 5 tahun saat Papa tugas di kota kecil di Sumatera Utara, sebagian besar hidup gue, ya, di Jakarta. Menengok ke belakang, periode 5 tahun di luar Jakarta itu ternyata adalah masa-masa menyenangkan dan nggak habis gue syukuri hingga saat ini. Why? Selama 5 tahun itu, ternyata (ho oh, baru sadar setelah dewasa) gue mengalami apa yang mungkin bisa disebut masa kecil yang cukup ideal. I got to play. Main di luar, eksplorasi lingkungan sekitar, lari sampai capek, manjat pohon, getting dirty, main di “comberan”, tersandung, jatuh, badan luka, menangis. Semua hal “normal” yang sekarang malah jadi barang langka. Gue coba bandingin dengan kegiatan anak gue sendiri saat ini di usia yang kira-kira sama dengan gue waktu itu: usia TK. Anak-anak gue lebih banyak bermain pasif di dalam rumah. Nonton TV (btw, ini juga ternyata bukan bermain), main gadget, main puzzle, menggambar dll. Kalau mau main agak aktif, paling di depan cluster rumah kami yang “hanya” berupa jalan aspal sepanjang beberapa ratus meter. Lumayan buat naik sepeda atau lari-lari, sih. Tapi sebentar juga bosan mereka.

Ngga berani foto sendiri. Cari temen :p
Ngga berani foto sendiri. Cari temen :p

Tanggal 12 April yang lalu gue hadir di acara #KidsToday Project Blogger Gathering, diundang Mommies Daily. Main event-nya adalah pemutaran video #KidsToday Project dan talkshow tentang pentingnya bermain bersama psikolog Roslina Verauli. Dalam salah satu video ada curhatan anak-anak perkotaan tentang apa yang mereka inginkan. Mayoritas ingin punya tempat bermain yang lebih banyak: taman, lapangan bola, jalur skateboard. Kebayang, sih. Anak-anak itu, kan, energinya besar. Mereka butuh tempat untuk menyalurkan semua energi itu. Cara paling oke memang bermain aktif. Ini dia yang sekarang agak susah dipenuhi. Bersyukurlah kalau rumahnya dekat taman (sekarang syukurnya udah mulai banyak, ya), tinggal bawa anak-anak ke sana lalu bisa lari-lari. Itu pilihan paling mudah, sih. Lha, wong, ke pantai aja musti bayar. *bersungut-sungut* Area main khusus anak yang rada lengkap juga ada, dengan biaya yang lumayan (hampir seratus ribu per anak). Sudah pasti nggak tiap minggu ke sini, ya. Habis uang belanja gue. Btw coba liat video yang gue maksud di atas itu ya.

Ngomongin soal bermain, Mbak Vera juga bilang anak usia TK itu perlu kira-kira lima jam per hari untuk bermain. Deg! Anak gue udah memenuhi porsi ini belum, ya? Mereka lebih banyak nonton TV dan itu bukan bermain. Terlebih lagi, banyak skill yang hanya bisa dilatih kalau anak bermain aktif di luar ruangan: motorik kasar, kemampuan spasial/keruangan, some agility; those are easier to acquire when playing outside. Oiya, bermain itu juga mengasah fungsi eksekutif, lho. Kemampuan-kemampuan seperti pengambilan keputusan, inisiatif, nalar, kepemimpinan dan followership bisa terasah sambil bermain! Ini PR gue dan Arief, nih. Sadar banget, kok, kalau selama ini anak-anak kurang banget porsi bermain aktifnya. Perlu diinget juga nanti pas sudah pada sekolah (terutama SD) untuk nggak membebani mereka dengan terlalu banyak les dan kegiatan. Tinggal orang tuanya aja, nih, yang mesti lebih rajin cariin tempat mereka bisa main. They won’t be preschoolers forever, right? Anywho, acara kemarin itu seru banget karena topiknya yang cukup penting bagi emak-emak seperti yours truly. Selain itu, seneng juga bisa keemu temen-temen blogger Mommies Daily yang lain. Tentunya, tak lengkap kalau ngga pake foto-foto! Ini emak-emak nggak kalah kenes sama anak-anak kalau udah urusan foto bareng.

Bareng fellow blogger dan tim Mommies Daily
Bareng fellow blogger dan tim Mommies Daily
Foto dari @ariendasapari. Heboh benerrrr
Foto dari @ariendasapari. Heboh benerrrr

Pulangnya kita juga dibekali dengan hasil foto di photobooth dan juga goodie bag! Needless to say, gue berbinar-binar bahagia karena isinya adalah: Rinso Cair! Ohmyimsohappyicouldclimbmountains! I’m such a mom. 😀 Oiya, Rinso juga mengadakan blog competition, lho. Lumayan ada hadiah uang tunai, voucher Gramedia dan suplai produk Rinso! Cek di sini, yak.

I Wear My Baby. How About You?

Most of the times people would second-looked us. I guess using baby wrap is still pretty unusual. But it gets more common nowadays.

Back when Aria was still a baby, people around me always warned me about not letting him be accustomed to being carried. Or as they say, bau tangan. It is understandable, carrying your baby around all day can be a hassle. It’s hard to get anything done. Now, with Rory, I find myself more inclined to holding her all the time. Maybe because in the beginning, she wasn’t that heavy. She was quite petite, and light. So I didn’t really mind holding her. Moreover, she seemed to prefer it. She fell asleep easily in my arms, and then woke up just as easily when put down hehehhh…

I’ve been eyeing a baby wrap since I was still pregnant with Rory. The idea of having my hands free while still able to carry my baby around appealed to me. Not to mention that the wrap distributed the weight of the baby evenly between shoulders and back. So less shoulder and back pain, yayyy!

When it comes to choosing what brand of wrap to buy, I did some research. Took me a while. You know, I was very indecisive. The local brands were of course cheaper, but the reviews weren’t that great either. The imported ones, well, let’s say it will cause a hefty dent in your wallet. But, the reviews are great.  Naturally, I was confused. Since I didn’t know if I was going to use this regularly, I decided to get a local wrap. Before I got the chance to decide which brand, I spotted one being sold in a forum. It was preloved item, and the owner was willing to trade with a ring sling. I remembered owning a sling I never used.  So i took pictures of it and emailed her. She was willing to trade the wrap for my sling. So I didn’t have to buy! Score!

At the mall. We were getiing lunch after attending a wedding. I was wearing (comfortable) 9cm wedges in this picture. Using a babywrap makes it easier to keep your balance even when wearing heels. Mind you, my shoes were very comfortable so it helped a lot.

The first time I tried the wrap was when Rory was 2 months old. Let’s just say it wasn’t successful. I tried the newborn hug position and it was awkward. Rory wasn’t comfortable and she cried. So I decided to postpone using it. I tried again when she was 3 months old and her neck was a lot stronger. This time I tried a different position. Voila, it worked. Carrying her with it was so comfortable. I started using it often. Actually, every time we went out because that time I didn’t have assistant (ART) to help me. I was glad because I can go to malls again without worrying about the baby and the hassle of pushchair.

This is when we went to Brightspot Market. As you can see, she was sleeping. I could do my (window) shopping in peace. I was walking for about two hours carrying her around. No back pain whatsoever.

I went everywhere with Rory. To the ITC, where you know it’s not an ideal place to take a baby. With the babywrap, it was tolerable. Still, I don’t recommend taking your baby there often because the place can be ridden with smoke. People still smoke in air-conditioned area, I have no idea why. I went there because I had to and we finished the errand quickly so we could get out of there. The malls were an obvious place. I was often bored because normally I just stay at home. This way I could take Rory with me without having to ask help from other people (namely, my mom) to carry Rory. When Brightspot Market was on, I took Rory there. Carried her in the wrap and she slept while I happily window-shopped. That was the great thing about baby wrap. Most of the time Rory would fall asleep in it so I can do my business. Even if she wasn’t sleeping she would just sit still and look around. She was mostly comfortable because she was held very near me.

I was having lunch (burger and fries, easy to handle), Rory stayed asleep. It was just the two of us that day at the mall. I could walk around, order and pay for food, eat in peace while she was safely sleeping.

This wrap is  a great invention. Really helpful. I would recommend getting this if you are expecting a baby. Take your time, though. Do some research. Familiarize yourself on how to tie it. I takes some practice and getting used to. There are lots of online video tutorials on how to use baby wrap in different positions. Also, take your time deciding what brand to get. Make sure you are happy with the materials, stretch, and of course, price. Just because your friend like a certain brand doesn’t mean you will.

So, don’t be afraid. Wear your baby!

7 month old Rory. Still quite comfortable in her wrap.