Wish List For Zizy

Truly my life has enter a new stage. Dulu kalo posting soal wish list biasanya nggak jauh-jauh dari makeup atau skincare. Sekarang? “Naik tingkat”, dong, jadi medical equipment! Hahahahaha…. Zizy memang butuh extra care termasuk juga dari segi peralatan yang mungkin anak lain nggak butuh. Sejujurnya gue dan Arief juga nggak tahu apakah alat-alat ini akan membantu secara signifikan, but as parents we can’t help but try to provide her with the best. Padahal gue beli diaper buat dua anak aja ngomel panjang pendek hihihihi…

Air Purifier

Alasan kepengen beli ini karena, as we learned the hard way, Zizy itu super rentan terhadap infeksi. Terbukti ya dengan kena pneumonia usia 3 bulan. Harapannya, sih, risiko Zizy kena kuman jadi berkurang. We realize we can’t protect her form everything.


Masalahnya gue nggak pengalaman soal air purifier. Merk apa yang bagus sekaligus terjangkau? More research necessary, I guess.

Nebulizer

Zizy ini ya kok bolak-balik batuk. Dokternya udah bilang sih anak dengan kondisi seperti Zizy justru bakal rentan ISPA. Bener ajeeeee….. Sebulan bisa tiga kali ke RS karena batuk gak abis-abis. Biasanya Zizy diterapi inhalasi. Lama-lama berasa juga ya sekali inhalasi puluhan ribu. Makanya kita berniat beli ultrasonic nebulizer buat di rumah. Kenapa ultrasonic, soalnya uap lebih tebel dan lebih enak pakenya. Kalau kompresor Zizynya mesti didudukin tegak gitu, kalo nggak uapnya nggak keluar. 


Syringe Pump

Yang ini sih masih nomor sekian, terakhir bahkan. Soalnya siapa tahu Zizy besok-besok nggak butuh NGT lagi (aminnnnnnn…) jadi nggak minum pake selang lagi. Syringe pump ini gunanya buat masukin susu/cairan dengan interval waktu tertentu. Kalau pakai feeding burret kan mesti diliatin, kadang suka macet. Kalau ini tinggal set, bisa ditinggal. 

Yang ini feeding drip. Diatur lajunya pakai tombol (atau apalah itu) yang di tengah selang. Mesti dikira-kira.


Yang kepikiran baru tiga benda itu sih. Semoga ada rezekinya. Lebih bagus lagi kalau Zizy akhirnya gak butuh alat-alat ini lagi ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

I’ll Protect You, But Maybe Not Excessivelyย 

Sebenarnya, punya bayi model Zizy yang agak beda dari bayi pada umumnya, harusnya melegitimasi (halah) saya untuk jadi emak parno. Gimana nggak, ini bayi rentan segala-gala ๐Ÿคฃ Karena kondisi labio-palato schizis, Zizy gampaaaaaaang banget batuk atau pilek. Bisa tiga bulan batpil melulu bolak-balik. Namanya juga bungsu, kakaknya tiga. Kebayang kan kalau lagi oper-operan virus di rumah ๐Ÿ˜… Si baby ini pasti yang paling menderita. Herannya kok ortunya (sok) santai. Suami sih udah pesen harus ekstra bersih untuk segala hal yang berkaitan dengan Zizy. Me? Bersih sih iya diusahain tapi nggak yang sampe OCD gitu. Di rumah juga yang pegang Zizy ada mbaknya. Udah diajarin supaya rajin cuci tangan dan disediain hand sanitizer. Orang lain pasti ngebayanginnya Zizy sangat diproteksi dan selain mamanya nggak ada yang boleh pegang, mandiin, siapin susunya dll. Eng, nggak gitu tuh ๐Ÿ˜… Yes, Zizy butuh perhatian lebih tapi sejauh ini nggak lebay sih. Beda dengan kakak-kakaknya, oh jelas. Misalnya kalau dulu anak-anak batuk, paling kita jemur aja, banyak minum air putih. Kalau Zizy batuk? Lari ke dokter ๐Ÿคฃ Minimal inhalasi. Tapi ya emang perlu sih. Dulu pernah batuk kita home remedy-in aja hasilnya radang paru-paru. Parah kan ๐Ÿ˜… 

Namanya bayi, kulitnya juga pasti lebih sensitif. Anak-anak saya apalagi. Semua punya riwayat kulit sensitif karena papanya punya alergi. Aria apalagi, paling parah kayaknya dia dulu. Bayi rempong banget deh. Keringetan dikit merah-merah kulitnya langsung. Diaper rash? Pernah bangettttttt sampe anaknya jerit-jerit karena perih. Huhuhuuuu… Zizy juga sama. Walau nggak separah Aria, kulitnya tetap termasuk sensitif. Mesti rajin ganti bajunya kalau keringetan dan diaper juga masih pake yang premium soalnya cari yang lembut. Alkisah, Zizy pulang dari rumah sakit sempet diare. Doh, itu tiap abis minum susu (yang mana per 3 jam) pasti BAB. Bisa ditebak, merah deh kulit diaper area-nya. Kalau udah gini ya diaper cream jadi toiletries wajib pakai. Nah, soal diaper cream, dulu ada dokter anak yang bilang pakai krim apa saja yang ada zinc-nya. Maksudnya, nggak usah ngoyo yang impor dan merk tertentu. Etapi, pernah coba zinc cream (khusus buat bayi lho padahal) ternyata nggak nolong buat diaper rash. Emang cocok-cocokan juga kali ya. Zizy pas kena diaper rash ini dikasih Sleek Diaper Cream. Kakak-kakaknya belum ada yang coba merk ini soalnya dulu belom ada ๐Ÿ˜„ Syukurnya cocok dan oke buat diaper rash. Merasa aman juga soalnya udah dermatologically tested (penting!). Biar gimana, Zizy ini “spesial” dan emaknya ini mesti hati-hati makein produk apapun. 

Jadi, kalau dibilang sekarang saya jadi parnoan setelah ada Zizy, nggak juga ya. Lebih khawatir, iya. Hanya saja bentuknya saya ubah jadi lebih hati-hati, awas dan teliti. Saya juga mempersiapkan diri dengan “arsenal” yang bisa membantu meminimkan khawatir ini. Di rumah saya sedia hand sanitizer ukuran gede kayak di rumah sakit. Saya dan suami sudah rencana mau cari air purifier, siapa tahu bisa membantu kesehatan Zizy biar nggak bolak-balik sakit. Nebulizer juga sudah ada di daftar kami, biar nggak bolak-balik ke RS buat inhalasi. 


Untuk kulit Zizy, saya pakai sabun bayi yang mild dan mengandung ekstra pelembap. Kalau diaper rash mah gampang, serahin ke Sleek aja. Kalau udah ada “senjata-senjata” ini, parno bisa jauh-jauh, deh. ๐Ÿ˜‰ 

5 Things I Won’t Miss From My Pregnancyย 

Foto dari Dreamstime.com

Buat yang kenal saya, bukan rahasia lagi kalau dua kehamilan terakhir saya semuanya tidak terencana. They’re gifts ๐Ÿ˜. Jadi, sebenernya bukannya doyan banget hamil jadi sampe empat kali gini. That being said, I quite enjoy being pregnant. Ya namapun  kalo udah kejadian, kan, better go with the flow. Go make lemonade, gitu. Tapi semenyenangkan (is this correct grammar?) apapun hamil itu, ada beberapa hal yang sangat sangat sangat saya gak suka banget (lebay alert) dan hanya terjadi kalau (saya) lagi hamil. 

  1. Clogged ears. Asliiiiiiiiii benci banget sama telinga tersumbat ini. Berasa bloon karena udah kayak budeg, susah denger omongan orang. Saya pernah mesti dicolek sama lawan bicara karena nggak denger pas dipanggil. ๐Ÿ˜ญ Kenapa sih bisa tersumbat telinganya? Ternyata, karena pengaruh hormon saat hamil, bisa terjadi build-up cairan dalam tubuh. Cairan ini bisa juga menyumbat telinga. Kedengaran remeh tapi it’s so annoying! All you can hear is yourself talking and breathing. Ugh! Sure enough, begitu lahiran, normal lagi telinganya. Lega banget bisa denger normal lagi. 
  2. Fatigue. Sebenernya ini salah sendiri, sih. Kondisi tubuh sebelum hamil dan aktivitas selama hamil berpengaruh sama seberapa fit badan (yaiyalah). Berhubung di sini modelnya couch potato, doyannya tidur gak pernah olahraga, begitu hamil gede mulai deh muncul rasa lelah. Baru jalan sebentar udah capeeeekkkkk banget rasanya. Makin gede perut makin susah bawa bebannya. Kaki gampang sakit, napas juga sampe susah. Kan sebel padahal pengen (banget) jalan-jalan tapi belom apa-apa udah capek dan kepingin pulang. Nggak sinkron jadinya.
  3. Lower back pain. Ini juga kejadian pas udah hamil agak gede. Terutama ganggu selama sedang kerja di kantor. Seharian duduk terus, bikin pinggang pegel dan tulang ekor sakit. Makanya waktu kerja suka pindah duduk di sofa supaya bisa agak miring-miring dan bisa pindah-pindah posisi. Kalau cuma duduk biasa lama-lama tulang ekor berasa sakit banget. Etapi, kelar hamil ternyata masih ada nih sakit kalau duduk kelamaan. Kalau kata nyokap kemungkinan sih syaraf, soalnya beliau juga ngalami walaupun pencetusnya adalah cedera main boling.
  4. Skin problems. Again, karena hormon, kulit jadi bertingkah. Beberapa area di wajah tiba-tiba jadi kering (muncul dry patches) tapi tetep (bahkan lebih) jerawatan. Pusiiiiiinggggg karena skincare jadi berubah. Akhirnya cut down produk yang dipake, selain karena ada yang nggak boleh dipake juga karena meminimkan reaksi kulit yang lagi rewel gegara hormon. 
  5. Migren. Entah kenapa pas hamil kok kumat migrennya. Buktinya setelah lahiran jauh lebih mending nih. Kumatnya bisa tiap hari lho pas hamil itu. Sebel banget pas lagi meeting, tapi kepala suakit banget nggak bisa konsen. Belom lagi kalo utang report banyak ๐Ÿ˜ญ M e n d e r i t a.

Di kantor kebetulan ada temen yang hamil bareng, jadi bisa bandingin pengalaman. Migren dan sakit pinggang/punggung adalah yang paling sering mengganggu. I wonder if others also experienced these… 

MCA


Saat pertama tahu kelainan Zizy, masih berdoa dan berharap bahwa kasusnya memang hanya celah bibir dan langit-langit saja, isolated. Takdir berkata lain. Zizy has Multiple Congenital Anomalies. By definition artinya kelainan bawaan multiple. Dalam kasus Zizy bahkan banyak, lebih dari dua. Beberapa sudah diketahui, dan masih banyak yang belum dicek. What Zizy has:

  • Cheiloschisis atau cleft lip. Kalau di Indonesia disebut bibir sumbing, namun belakangan lebih sering disebut celah bibir. Kalau saja ini terjadi sendirian alias kelainan lain nggak ikut-ikutan, penanganannya cukup straightforward: operasi. Biasa dilakukan saat bayi berusia 3 bulan atau minimal berat badannya 5.5kg. At least itu syarat di RS Harapan Kita tempat Zizy konsultasi. Bisa aja beda tempat beda (sedikit) syaratnya. Zizy belom dapat schedule karena sampai saat ini berat badannya masih 3 kiloan, masih jauh. 
  • Palatoschisis atau cleft palate. Celah langit-langit kalau istilah bahasa Indonesia. Ini yang bikin sulit karena bayi dengan CP nggak punya langit-langit yang memisahkan hidung dan mulut. Ini bikin bayi sulit atau bahkan nggak bisa menyusui. Zizy sejak lahir nggak bisa nenen langsung. Sad. Penanganan untuk CP juga operasi. Biasanya anak usia 15 bulan atau berat badan 10kg. Setelah operasi ini perlu terapi lanjutan, biasanya terapi wicara untuk mencegah atau mengoreksi kesalahan bicara (misal sengau). Nah, untuk CLP Zizy, konsultasinya di Klinik Sehati RSAB Harapan Kita. Di sini penanganannya dengan tim dokter. Ada dokter bedah mulut, dokter anak dan psikolog. Jadi all-round gitu, karena CLP butuh terapi dari berbagai sisi. Saat ini, Zizy baru sampai tahap pakai obturator (semacam langit-langit buatan). 
    Obturator itu yang bening di dalam mulut Zizy. Oiya ini lagi dirawat, jadi pake selang oksigen. Yang sebelahnya selang NGT.
  • Congenital Talipes Equino Varus (CTEV). Namanya panjang, but this just means kaki Zizy bengkok. Duh, dulu nggak kepikiran foto kaki Zizy sebelum diterapi, jadi nggak bisa post foto penampakan. Coba aja brosing “clubfoot” kalau mau lihat gambarnya. Zizy diterapi dengan Ponsetti Method, caranya dengan memosisikan kaki ke posisi yang benar, lalu digips.
    Proses pasang gips oleh dokter spesialis orthopedi
    Kakinya diposisikan over-corrected
    Kaki Zizy sesudah kurleb 5x gips. Udah bagus
    Ini dilakukan bertahap, minimal 6 kali. Setiap koreksi dilakukan sedikit-sedikit. Zizy termasuk beruntung (Jawa-nya gue keluar, selalu nyari untungnya) karena cepat ditangani (usia seminggu sudah ke orthopedist) dan kakinya juga lentur. Jadi dalam 6 kali gips sudah mencapai bentuk yang diinginkan. Gips diganti seminggu sekali. Nah, ada kasus yang memerlukan operasi kecil sesudah casting, yang tujuannya memperpanjang urat Achilles di tumit. Zizy nggak perlu operasi ini. By week 6, her feet are corrected satisfactorily. Thank heavens for small miracles. Sekaramg Zizy pakai sepatu khusus (brace) untuk terapi lanjutannya, dan konsul ke dokter rehab medis untuk terapi kakinya ini. 
    Sepatu khusus. Lebih mahal dari sepatu mama ๐Ÿ˜…
  • Laringomalasia. Ini kelainan di tulang rawan yang ada di laring, tulang yang berfungsi menutup saluran udara saat kita makan untuk mencegah tersedak. Tulang rawan Zizy bentuknya agak beda, jadi bikin dia napas bunyi, kayak sesak gitu. Ini nanti mesti dilihat lagi 1-2 tahun lagi, biasanya ada perbaikan. I’ll worry about this later ๐Ÿ˜…
  • Mild left pulmonary stenosis. Ini agak bingung sih gue. Nggak yakin juga istilahnya bener. Problem di jantung yang kira-kira artinya jantung sebelah kiri salurannya diameternya lebih kecil dari yang kanan. Or something like that. Ini perlu EKG lanjutan dua bulan sejak diperiksa. Dokternya juga bilang kemungkinan akan normal sesuai pertumbuhan dan bila berat badan naik. Dikonfirmasi juga bahwa kondisi ini nggak bikin Zizy susah napas. Again, I’ll tackle this when the time comes. 

Phew. So far, itu yang ketauan. Masih banyak PR screening buat Zizy. Ada yang keliatan potensi problem dan ada yang nggak keliatan.

  • Hernia Umbilicalis. Intinya ya hernia di area pusar. Saat ini penampakan pusar Zizy menonjol gitu. Mirip bodong tapi lebih gede. To my chagrin, it gets bigger as Zizy gains weight. Yak, ini mesti dicek nanti. Ini masih bingung konsul ke dokter apa. 
    Bukan “bodong”, dan tadinya nggak segede ini
  • Sacral dimple. Kalau baca-baca sih ini nggak bahaya. Tapi mengingat Zizy ada clubfoot, bisa jadi sacral dimple ini pertanda salah satu bentuk spina bifida. Nanti deh konsul sekalian sama hernianya. 
  • Ear problem. Dulu waktu Zizy baru lahir, oleh DSAnya disarankan tes telinga/pendengaran. Ternyata hasilnya kurang oke. Walau mungkin penyebabnya saluran tersumbat kotoran dan ukurannya masih terlalu kecil. Ini dalam waktu dekat udah plan mau konsul. Soalnya kalau mau pakai hearing aid baiknya usia 6 bulan.
  • Eye check. Ini disarankan sama dokter rehab medisnya yang berpendapat respon matanya masih kurang baik untuk usianya. Okay, we’ll see. Masukin to-do list. 

Selain “daftar” di atas, Zizy susah banget naik berat badannya karena minumnya mood-mood-an. Biasanya kalau hausnya udah ilang dia balik tidur lagi. Kebo kayak mamanya ๐Ÿ˜“. Nggak hobi makan, kayak gue juga kalo dipikir-pikir ๐Ÿค” Setelah konsul ke dokter gizi, diputuskanlah pakai NGT untuk bantu boost berat badannya. Minumnya juga ditarget 8 x 75ml per hari. Zizy pakai susu Nestle Pre Nan yang kalorinya lebih tinggi per 100ml-nya. Lumayan sih, dua minggu dapet naik 400gr-an. Semoga cepet bisa sampe 6 kilo. 

Zizy bener-bener membuka wawasan gue tentang kesehatan anak, kelainan genetik dan memberi banyak pengalaman baru. Termasuk pengalaman opname di usia 3 bulan akibat pneumonia, which incidentally is when this post was written. Tapi pengalaman ini juga yang nunjukin bahwa banyak banget yang sayang sama Zizy. Banyak banget yang jenguk, doain dan bantuin. I may not be the most social person and sometimes I regret that. This experience only shows that we need each other and therefore should strive to maintain good relationships. Jaman susah gini, gak masuk akal kalau malah sibuk cari musuh dan setiap perbedaan dipermasalahkan dan dibikin jadi alasan untuk saling membenci. 

Written January 25, 2017 at RSAB Harapan Kita. 

๏ปฟWelcoming Zizy

Pas tanggal 1 Oktober 2016, 23.48 WIB, akhirnya si bontot hadir. Seperti juga kakaknya, Zaq, sedikit drama ceritanya. Mungkin karena malam minggu, ya. Bidan jaga cuma dua, SpOg juga lagi nggak ada. SOP rumah sakit juga lama, masa nunggu bukaan 8 dulu baru panggil dokter on call? Padahal udah tau gue hamil anak keempat dan kemungkinan proses akan cepat. Bener, kan, kurang dari 4 jam setelah sampai RS, anaknya lahir. Tanpa dibantu dokter. Yeah, what else is new, right? With that, we welcomed the newest addition to our family, Azizah. Zizy for short. Sesuai perkiraan, anaknya mungil. Beratnya 2.63kg dengan panjang 48cm. 

So, my Zizy is special. Saat kandungan usia 6 bulanan, dokter mendeteksi ada defek di bibir. USG lanjutan di klinik feto maternal mengkonfirmasi defek nggak hanya di bibir namun juga palatum. Lip-palate cleft. Dunia runtuh? Nggak juga, but still felt like someone just knock me off my feet. 


Efek dari lip-palate cleft ini ternyata berentet. Yang paling bikin sedih, Zizy nggak bisa nyusu langsung. Buat seseorang yang menyusui 3 anak selama dua tahun masing-masing, ini lumayan bikin nyesek. Apalagi, pas nyoba nyusuin sebenernya Zizy pinter banget menghisapnya. Cuma karena langit-langitnya belah dan bibir juga tidak bisa fully closed, ya, nggak ada daya hisapnya. Kasihan banget. Hari ini coba kasih ASIP pake haberman feeder dan ternyata dia bisa dan suka. So, here I am. The person who “hates” pumping (I was never very good at it) is now exclusively pumping. 


Itu baru satu: menyusui. Tadi tes dengan dokter THT dan ternyata hasil tes OAE juga tidak sesuai harapan. Sebulan lagi diulang lagi untuk memastikan apakah memang ada masalah pendengaran atau tidak. Dari observasi sementara sih, Zizy respon kalau ada suara mendadak (yang cukup besar). Hopefully she won’t need hearing aid. 

Berhubung ini masalahnya di mulut, kemungkinan nanti juga butuh terapi untuk bicara. Ya namanya organ bicaranya tidak sempurna, pasti fungsinya akan terpengaruh, kan. Belum lagi, karena gusi juga nggak sempurna, pertumbuhan rahang dan eventually giginya nanti juga akan butuh treatment dan mungkin juga operasi lagi. 

Dalam minggu ini kita sudah rencana ke Harapan Kita untuk konsul ke tim dokter di cleft centernya. Dari situ baru ketauan plan dan jadwalnya gimana. Denger-denger sih yang akan diperbaiki duluan adalah bibir. Itu juga baru di usia 3-4 bulan dengan minimal BB sekitar 5 kg. 

Suffice to say I’m going to need all my strength, resolve, stamina, patience, optimism, resource and all the help I can get. My number one support system is currently next to me, sleeping due to exhaustion. I just hope we both will help Zizy power through this, one step at a time. 

[Recent Haul] Cushions Galore!

It all started when I impulsively decided that I wanted a cushion blush. Since cushions are mostly from Korean brands, the first ones I saw were those collaborative lines e.g. Doraemon x A’pieu. Then I saw the older Line Friends x Missha and kinda fell in love with the Sally cushion. Just because. 


So I went a bit overboard and purchased two cushions and one cushion blush. Blame the hormones ๐Ÿ˜› 

What I bought is Missha x Line Friends Magic Cushion Moisture SPF50 / PA+++, shade #23. It took a while finding this shade since most sellers were left with #21. The cute Mike Wazowski is The Face Shop x Disney CC Long Lasting Cushion, #v203. The cute Rilakkuma is a collab with A’pieu, cushion blush #CR01. 

Haven’t tried any of these. When I have and have time I MIGHT post some reviews. 

Btw I also have the cushion case of A’pieu x Doraemon ๐Ÿ™ˆ Just because it’s cute. 

Wish List: Compact Powder with Sun Protectionย 

After finally managed to decide on what sunscreen to get (Biore UV Aqua Watery Essence), I’m still in a sunscreen crave. This time I thought I’ll get something in powder form, for touch ups during the day. Again I’m leaning toward Asian products since they seem to obsess over sun protection more so than western brands. To my delight, more local Indonesian products now have double spectrum sun protection. Easier to find, and relatively more affordable. Yay! So, I have been thinking and have narrowed down my choices to the following, in no particular order.

  1. Caring by Biokos Timeless Illuminate. SPF 35 PA+++ย XHB00438500000377_2016060778279_1_caring-by-biokos-timeless-illuminate-dual-action-cake-01-silky-nude---for-dry-skin
  2. Canmake Transparent Finish Powder. SPF 30 PA++ย img_7610

To be honest I don’t know what else is out there in terms of compact powder with sun protection. I think Emina and Marina both have compact powder with UV protection, too. I’ve also seen some Sun Cushion but I think I’d like powder form since I already use cushion as base. But darn these Korean cosmetics, they keep producing these cute cushions!

CnVqAXOUkAA-kd4
The Face Shop x Disney Baby Sunscreen Cushion
etude sun blind ์—๋›ฐ๋“œํ•˜์šฐ์Šค_์„ _๋ธ”๋ผ์ธ๋“œ_์ฟ ์…˜_00002-750x750
Etude House Sun Blind Cushion
4992133663031296_grande
The Face Shop x Kakao Friends Sun Eco Cushion

Still don’t know which one I’m gonna get, although I’m leaning towards Sariayu. Do you use sun protection powder/compact? Any thoughts?