(Online) Shopaholic

(Online) Shopaholic

Anyone who knows me well will tell you that I love to shop online. My first experience with online shopping was during my first pregnancy. I was sick most of the time, having headaches and morning sickness all day long. So mostly I stayed home, trying to sleep it off.

But I still needed to shop for baby needs. That’s when I started browsing for various baby products and realized that I could shop without leaving my house. I bought various stuff like baby shoes, ring sling, and baby bottles.

I still shop online now. No longer limited to baby needs. I bought makeup, clothes, children clothes, accessories, even food. Once I got this hankering for well known steamed brownies (bronis kukus) from Bandung, I found that this person is willing to shop for you (she lived in Bandung) and send those yummy Bandung snacks all over Indonesia. So I ordered two boxes of my favorite brownies and was enjoying them two days later. Convenient.

I admit this habit is not necessarily healthy for my bank account. I need to REALLY exercise some self control if I don’t want to go bankrupt. But, that being said, it is fun. Retail therapy (in whatever form there is) is always fun. So why don’t I share some of the joy eheheheeee… *evil grin*

These are a few of my favorite online shops. Some I haven’t shopped at but got good reviews from others. Do visit them.

There are lots of other great online shops but for the life of me I can’t remember them all. Maybe I’ll do another post on this some other time. In the mean time do visit those shops. Online window browsing is fun, too (especially during tanggal tua, hehehehe….).

Blush of the Week

Blush of the Week

Naaaah berhubung blush-blush baruku sudah datang (hello pretties!), kayaknya boleh mulai project baru nih. My bad habit is when I have new makeup item I tend to use the new items and forget about the others. Kasian kan, jadi gak tersentuh. Dan kan beresiko keburu expired itu lenongan.
So, alangkah bagusnya kalo para makeup itu dipakai bergilir. Jadi semua bisa kepake. Dirotasi, gitu. I got this idea from a beauty blogger (kayaknya sih banyak yang pake sistem ini, gue aja kuper) who rotates her blushes, one per week. Jadi minggu ini dia pake satu blush, blush berikut di minggu berikut, sampe (kalo sanggup) semua kepake at least sekali.
Kayaknya dalam beberapa minggu ke depan boleh nih diadopsi sistem ini. Or maybe I should do this with my lipsticks as well? Say, two for a week? Will update soon.

Makeup Obsession

Makeup Obsession

No, I’m not obsessed with makeup (yet). Percaya deh, gue mah nggak lepel dibilang obsessed. Masih newbie lah kalo soal beginian. Tapi nggak bisa disangkal, I love makeup. Baru-baru aja sih, bahkan kayaknya baru setelah punya anak kok. Waktu SMA jelas cuma kenal bedak lipgloss doang. Lewat dari itu nambah blush on. Eyeshadow cuma bisa pake warna netral dan itu pun asal templok aja, nggak tau “bener” apa nggak.

Sekarang udah mulai banyak nih peralatan lenongnya. Nggak bisa disangkal ini juga gara-gara suatu forum berinisial FD (hihihihi too obvious ya? Tuh link-nya ada di kanan, mampir aja) dengan racun-racun nikmatnya. Jadi lebih tau soal lenong-melenong, apalagi sempet ikut dua kali kelas dandannya yang sangat menyenangkan itu. Mekapan sekarang jadi lebih lengkap.

Primer

Aslinya gue gak tau loh primer itu apa. Ternyata fungsinya buat mempersiapkan kulit wajah biar foundation lebih gampang diapply dadn hasil lebih mulus. Denger-denger yang bagus merk smashbox photofinish. Tapi harganya yasalam. I tried it waktu kelas dandan. Iya sih muka jadi alus, soalnya ada silicone-nya. Jadi licin-licin gimanaaaa gitu. Pernah nyoba juga Revlon New Complexion. Lumayan oke walaupun kurang silicon-y for my taste :p Tapi enaknya ini bisa dibeli di Jakarta. Konter Revlon banyak pan. My fave is PureLuxe eraser. Ini sumpah ampuuuhhhhh banget buat “ngapus” pori-pori. Muka jadi mulus pisan. Kalah deh aspal jalan tol (errr, nggak enak ya perbandingannya?). Tapi yaaaaa belinya kudu online, atau PO sama orang. It’s not exactly cheap either. Waktu itu gue beli yang sample size, 50.000 cuma sa’umlik (pardon my french). Makanya makenya juga gue sayang-sayang. Cuma kalo pergi pesta yang perlu dandanan flawless aja gue pake.

Foundation

Susahnya cari foundation adalah: nentuin shade buat skin tone kita. Sebaiknya sih kita tau skin tone kita apa, undertone yellow, pink, olive atau neutral. Cara nyarinya gimana, gugel aje yak. Susye ngejembrengnya di sini secara eike juga nggak tau persis skin tone saya apaan. Banyak sih yang acuannya ke MAC (kosmetik ya, bukan komputer). Jadi minta dicariin sama SA/BA-nya yang (sayangnya) banyak yang jutek itu (kalo di Jakarta). Gue tiap nyari foundie pasti salah mulu dah. Sebel. Entah kenapa SA seneng banget nyodorin foundie yang shadenya terlalu terang. Untuk tekstur, finish dan daya tahan, I like Revlon colorstay. Hasilnya bisa agak dewy di muka, dan tahan lama. Tentunya tetep blot ya. Sayang shadenya nggak pas, dan curiganya shade yang bener-bener buat gue itu nggak masuk Indonesia. males ah kudu ngimpor dulu. Tapi sekarang udah males cari foundie yag pas karena I found:

Blemish Balm cream (BB cream)

Ini katanya rahasia artis-artis korea mukanya pada muyus-muyus dan bening. Siapa juga yang nggak ngiler. I did. Dan, ternyata gue sukses bokkk pake bbc ini! Jadi ceritanya nitip bbc sama Arief yang waktu itu tugas ke Seoul. Pulang dibawain lah gue bbc Skin Food yang peach pore sake. Ini ada juga kok di Jakarta dengan harga berkali lipat di korea hehehe… Gue pake yang #23. Ini asli enakkkk banget dipake. Wangi enyakkk pula hahahaha *gak penting*. Lumayan bisa ngecover noda-noda,even out skin tone, dan di gue tahan lumayan lama dan nggak bikin breakout. Beneran foundie nggak kesentuh setelah pake ini. jauh lebih gampang pakenya, muka juga berasa lebih cerah. Mungkin karena undertonenya cocok sama gue ya. Duh, Arief nggak bakal ke korea lagi ya? Mau nyetok nih, di Jakarta mahal amat.

Blush

I have a few of this. Soalnya nggak terlalu susah makenya dan it can brighten up your face almost instantly. Nggak perlu mekapan lengkap, pake blush dan lipstick and you’re good to go. Kalo ini nggak ada (belom kali ya) favorit. Punya NARS orgasm . Banyak yang ngerave tapi gue biasa aja sih. It’s a pretty blush but that’s about it. Iya sih tahan lama. ada juga Etude House yang bentuknya kayak stamp gitu, ini juga lumayan cakep warnanya. Pink muda (padahal gue beli karena namanya peach) soft banget. Gue pake kalo lagi pengen dandan sok inosen gitu (halah). Ada blush krim dari palet Stila. Convertible color in hibiscus. Sebenernya males makenya karena warnanya muda banget. Takut ggak keluar. Tapi setelah dicoba-coba lagi ternyata bagus. Warnanya kalau diblend dengan bener jadinya pink healthy flush gitu di pipi. Dan karena krimblas jadi hasilnya dewy yang lebih natural di muka. Ada slight sheen, bagus. Ini ada tambahan blush nih, hehehehe (blanja molo). Nitip si Nti yang ke sing, MAC melba. Duuuhhh nggak sabar mau nyoba tapi sayang nyoleknya. Harusnya warnanya peach cakep gitu *senang*. dan sedang menanti kiriman MAC Venomous Villains blush, bite of an apple. This is supposed to be a coral blush. Wihiiiiii senanggggg…. (walau bangkrut).

Eyeliner

Baru bisa pake e/l setelah ikut kelas dandan FD. Langsung abis itu nyari e/l nya Urban Decay. I got one in Zero. Enak makenya, tapi lumayan smudge sih. Punya juga yang warna corrupt. Coklat pake glitter, bagus juga.

Lipstick

I currently have 7 lipsticks and 2 glosses. But 4 of them is similar in shade. What a waste! Formula wise, my fave is estee lauder and clinique. Both are very creamy and moist. Tapi gara-gara super creamy itulah jadi gampang patah. Mine did. I had to “glue” them back together using the heat from a candle. They look like crap now. Luckily I got them both for free, since they don’t come cheap. Now I’m expecting two more lipsticks hihihihi… I was careful to pick colors I don’t have.

Eyeshadows

Nggak terlalu ngerti pakenya. Padahal udah diajarin tapi ya lupa-lupa lagi. Selama ini pake e/s Sariayu dan Stila. Sariayu ini oke banget loh. Warnanya keluar,pigmented banget dan ngeblend juga gampang. Stila juga lumayan. So-so tapi cukup laaah buat saya yang nggak jago juga makenya. Tetep aja, kepingin punya minimal satu palet Urban Decay. I heard they’re top notch. Tapi mahal yaaaaa…

Fiuhhhh…. Cape juga ya ngomongin makeup. Tapi sumpah deh, seneng rasanya kalo lagi liat makeup pouch dan liat blush-blush warna cantik dan lipstik. kayaknya bakal nambah terus nih koleksinya. Harus pinter-pinter tahan diri…

The Day Rory Arrived

The Day Rory Arrived

Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba juga. Si kecil Rory (yang emang badannya mungil) lahir juga di minggu 39. Sama kayak Aria dulu, lahir di minggu 39.

Tanggal 2 Juni, si mbak di rumah pulang kampung. Ijin seminggu karena (katanya) adiknya nikah. Okelah, walaupun dengan rada bersungut-sungut juga gue, lha wong dari awal kerja udah dibilangin I need her to help me take care of Mas while I’m having the baby. Kalo dia pulang, walau ada gantinya kan si Mas Ar belom tentu mau sama si mbak baru? Dulu aja sama dia butuh adjustment sebulan kok… Anywhooooo, karena si mbak pulang, jadilah hari Jumat tanggal 3 itu hari bersih-bersih. The day started as usual. Pagi sebelum cowok-cowok itu pada bangun, bikinin sarapan mereka. Masak air buat mandi mereka nanti. Bikin sarapan buat sendiri dan makan :D Lanjut lap-lap debu di kamar dan beres-beres kamar bayi. Nggak nyuci dan nggak ngepel. Sebenernya nggak berat sih kerjanya, cuma naik turun tangga aja jadi banyak banget. Berapa kali ya naik turun hari itu?
Sorenya cari AC buat kamar Aria. Masih nggak yakin kamar itu bakal kepake tapi soon or later emang harus dipasangin AC sih. Jadi dengan memperhitungkan inflasi (apa sehhh) kita mutusin beli sekarang. Tempat tidur belakangan hihihihiiii…

Karena emang nggak biasa kerja, capek bener rasanya hari itu. Baringan di tempat tidur enak banget rasanya. Toh, tetep aja tidurnya malem. Nonton TV dulu. I stayed up late. Oiya, gara-gara ada masterchef sama Hell’s Kitchen hihihihiiii… I find Gordon Ramsay cursing for almost an entire episode entertaining :D

Jam 11.48 pm mulai ngerasain sesuatu. Sakit. Masih bisa tahan sih. Gue pikir, ah, braxton hicks kali nih. But my senses told me to stay alert. Ya sudah. Lanjut nonton aja kita. Sambil tetep liat jam dan mantau ada rasa sakit lagi nggak. Well, there was. 12.20 am. Nah, yang ini rada nggak bisa dicuekin nih. Sakit cyinn… Jam 12.26 am nongol lagi. Cuma sebentar tapi annoying :D Colek-colek Arief. Gue bilang, kok kayaknya mulai kontraksi nih. Dengan mata merah dia ngumpulin nyawa (hihihihi) trus nanya, udah berapa menit jaraknya. Gue bilang masih 20 menitan dan gak seberapa teratur. Gue bilang tunggu aja lagi lah sampe bener-bener yakin kontraksi. Jadilah kita berdua nonton Hell’s Kitchen sambil rada-rada tegang nunggu. 12.43 am, kerasa lagi. Nggak terlalu kuat. Bikin gue bingung. Beneran kontraksi bukan sih? 12.48 am, kontraksi lagi, kali ini rada kenceng. Bikin meringis. Pas jam 1.00 am ada lagi, udah makin yakin deh, I’m in labor. Huwwaaaaaa… Padahal kita ngerasa belom siap 100% nih (salah sendiri, ada waktu 9 bulan nyiapin kok…). First things first, siapin barang-barang Aria. Dia bakal dititipin ke rumah nyokap. Setelah lumayan grabak grubuk nyiapin barang dan masukin ke mobil, jam 2.00 am berangkat. Drop Aria ke rumah mama, langsung ke JMC.

Di JMC, sepiiiiiiiii… Lha iya lah. Jam 2 pagi. Yang jaga di pendaftaran tidur pula. Di IGD gak ada orang. Lumayan lama tuh berusaha bangunin si mbak. Tau sendiri Arief kan suaranya juga lemah lembut begitu, nggak bisa disuruh keras. Padahal emergency yak. Pokoknya setelah beberapa menit berhasil bangunin si mbak, kita langsung ke ruang observasi. Kosong melompong. Rupanya lagi ada partus, bidan semua di ruang bersalin. Ya sudah yang penting aku bisa baringan deh sambil nahan sakit (yang sudah semakin kuat dan sering). Ada ibu-ibu (yang anaknya lagi di ruang bersalin) ngajak ngobrol. Errrr, sebenernya I prefer to be alone ya, apalagi di tengah-tengah hiss begitu. Tapi ya apa boleh buat. Berusaha senyum dan layani sebisa mungkin hihihihi…

Akhirnya datenglah bidan. Pasang monitor jantung bayi dan nunggu. Sekitar jam 3.00 am, setelah periksa dalem, ternyata udah bukaan 5 (!!!!!!!!!). Shock berat. Habisnya masih inget proses lahiran Aria yang 15 jam itu. Nggak nyangka 3 jam setelah kontraksi pertama udah bukaan 5. Dokter udah dihubungi. She’s on the way. The pain is overwhelming. Dan, yang paling serem, setiap kontraksi udah dibarengi rasa pengen ngejan. Gue panik bukan main. Gimana nahannya inniihhh???? Bidannya waktu dilaporin bilangnya, wah jangan dulu bu, belom lengkap bukaannya, tahan dulu. Lha lo kate gampang nahannya???

Pindah ke ruang bersalin jam berapa ya? Lupa… After 3 lah yang jelas. Bener-bener deh itu sakitnya. Kayaknya lebih sakit dari waktu Aria. Yang bikin nggak tahan itu the urge to push. Gue curiga banget itu bukaan udah lengkap makanya kontraksinya udah kuat sampe pengen ngejan aja bawaannya. Cuma berhubung dokter belom dateng ya terpaksa berusaha nyuekin. Tapi asli udah pasrah, kalo emang lahirnya tanpa kehadiran si dokter ya oke lah.

Ada yang rada lucu (or scary, depends on how you see it). Ketuban gue nongol. Bukan, bukan pecah. Nongol. Keluar. Muncul. Down there. *hiiiiiiiiiiiiiiiiiiii* I actually felt it. After one of those nasty contractions, I might have been pushing a bit too hard. I actually pushed a bit of the amniotic sac out. Kepikiran, bujug apaan tuh yang keluar, tapi berhubung masih kesakitan ya diem aja. Arief juga liat. Afterward, dia ngaku, antara serem sama mau ketawa. Understandable. :D
Akhirnya si dokter dateng. Itu jam 4-an kira-kira. Langsung grabak-grubuk siap-siap dan gue diposisi-in yang bener (dari tadi tiduran miring soalnya, in an attempt to keep the baby in :p). Ketuban dipecahin sama si dokter, trus dia nonton, nyuruh gue ngejan. It took a few pushes, berapa ya? 5 pushes I think, karena gue kebanyakan ambil jeda. Mestinya cepet disambung ngejannya. Bidan juga bantu dorong dari perut.

And then, there she was. Heard the cry, it was pretty loud. I saw my deflated tummy and somehow it confirmed it for me. My baby is here. I looked round to find my husband. Held his hand, but didn’t say anything. I couldn’t. I can’t remember if he had said anything, or what his face looked like. Was he teary, was he smiling?

Setelah ari-ari dipotong, bisa IMD deh. She wasn’t even cleaned, as per my request. Langsung ditaro di dada, diselimutin pake handuk yang buat ngeringin badannya. Udah deh, IMD sambil gue dijait (ouch). Dulu waktu Aria juga pake jahitan, tapi kok kali ini nyelekit banget ya rasanya? Kayaknya dulu gak berasa apa-apa. Padahal dokternya sama lho… Awal-awal IMD, tidur dia. Hehehehe… Lumayan lama juga tuh, kayak keenakan. Anget kali ya. Sekitar setengah jam lebih baru dia gusrek-gusrek mukanya. Sampe serem sendiri, abis takut idungnya (yang lagi-lagi persis papanya) ketutup. Akhirnya gue biarin aja dia keguling ke kiri. Tahan kepalanya, udah deh, ngenyot. Heheheheee… Lucu bangettttt… And in my mind, I thought, here we go again. Another round of breastfeeding. Syukurnya udah sempet istirahat beberapa bulan jadi udah lumayan siap emotionally.

Welcome to our life, baby Rory. Let our journey together begin.

Weaning

Weaning

Walaupun memang sudah niat, tetep aja ada rasa takjub waktu sadar Aria udah 2 tahun lebih nyusu. I’m grateful, bahkan sampe 15 bulan Aria nggak pake susu tambahan. ASI aja + makan tentunya. I introduced him to plain UHT milk because I wanted him to breastfeed less.

Sebenernya sangat berharap Aria bisa self-wean setelah dua tahun. Entah karena lebih suka UHT, atau ASI sudah nggak mencukupi buat dia, atau merasa sudah besar, anything. Nyatanya, ditunggu-tunggu malah asik aja nyusu terus (˘_˘”). Padahal kondisi gue juga lagi hamil. Sempet pasrah juga, mungkin nanti kalo bayi lahir harus tandem nursing nih. Udah nyiapin mental juga :p Tapi tetep usaha nyapih.

Nah, gue menghindari nyapih dengan cara nempelin macem2 di PD (kan ada tuh, yg pake plester, diolesin kencur, lipstik de el el). Agak-agak nggak tega aja bo’onginnya. I tried talking to him. Explaining why he should stop nursing. But for months nothing seems to work. Nggak tau apa karena emang gue yang kurang oke ngomongnya, kurang telaten apa gimana, Aria tetep aja nyusu at least 3 kali sehari. Udah dibilangin, Aria kan udah besar, minumnya susu sapi aja, kan udah bisa makan juga. Dikasih tau juga, yang nyusu itu bayi kecil yang belom bisa makan, sedang Aria bisa makan dan ngemil. Nihil semua. Cuma berhasil ngurangin frekuensi aja. Perjanjiannya, nyusu hanya kalau mau tidur aja. Including nap. Kadang-kadang kecolongan juga sih, minta nyusu bilangnya mau tidur, eh malah main abis itu. Keki gue.

Jadi, usaha yang (tampaknya) tanpa hasil ini berlangsung sampai Aria 27 bulan. I was in my second trimester. Dan jujur aja, gue udah mulai agak “capek” nyusuin. Mulai ada sebel-sebel gitu tiap kali nyusuin Aria. Duh, jahat ya? Abis gimana dong, kan pengaruh hormon jugak *pembelaan*. Kesel juga, kenapa gue gak bisa nidurin anak sendiri tanpa harus nyusuin.

Perut udah semakin besar, kita mulai makin sering bilang ke Aria bahwa ada adek di perut mama. Dia sih ho-oh ho-oh aja, kayaknya ya tetep nggak terlalu ngerti apa itu maksudnya ada adek. Kalo disuruh sayang, mau sih cium-cium perut gue. Tapi kadang-kadang tetep aja perut gue mau didudukin :o Horor banget. Eniwei, jadi sekarang “senjata” kita kalo ngebujuk supaya berhenti nyusu adalah: gantian sama adek. Kita bilang Aria udah cukup nyusunya, sebentar lagi gantian sama adek. Dia sih ngangguk-ngangguk aja kalo dibilangin, nyusu jalan terus. (¬_¬”) Sempet juga tuh, 2 hari nggak nyusu sama sekali. Tapi besoknya inget lagi. Pernah juga, setelah dibilangin berkali-kali “Aria, nenennya buat adek ya”, suatu kali dia ngomong dengan muka melas, “buat Aya aja, mama”. Haduuuuuu itu gue hampir nggak tahan mau nolak. Kasian banget. But I stood my ground and gave him lots of hugs and kisses instead. Oiya, ini juga salah satu taktik. Maksudnya supaya dia ngerti bahwa nggak perlu nyusu supaya bisa deket-deketan sama mamanya. I tried to cuddle more often.

One day, Aria duduk di samping papanya yang lagi solat. Tadinya ceritanya solat bareng tapi akhirnya dia malah duduk sambil main aja. Selesai papanya solat & zikir, si papa ngomong, “Aria kan udah besar, jadi nggak usah nenen lagi ya. Nenennya buat adek aja”. Si Aria ngangguk-ngangguk sambil nge-beo, “nenennya buat adek”. Gue senyum-senyum aja ngeliatnya. Emang Aria kerjanya beo-in omongan orang. But who could have known, momen itulah yang jadi turning point. Karena sejak saat itu Aria berhenti nyusu. Go figure. Mungkin suara papanya yang abis solat itu mengandung kekuatan persuasi yang lebih besar dari suara normalnya *apa seh* sehingga bisa nempel di otak Aria. Jadi, Aria berhenti nyusu juga di 28 bulan. Itungannya agak-agak cold turkey nih, soalnya kemarennya masih nyusu kok. Prosesnya bukan proses ideal seperti yang gue bayangkan sih, tapi emang jalannya begitu, mau gimana lagi?

Sampe sekarang emang masih agak susah sih tidurnya. Kalo nggak capek banget, belom mau tidur deh anak itu. Bahkan sempet juga kalo tidur punggungnya harus diusep-usep sampe satu jam! Capek deh mamanya… Tidurnya jadi malem terus, at least jam 10 malem. Biasanya jam 8 udah plessss kalo pake nyusu. Anggep resiko aja lah.

Jadi lumayan deh gue bisa istirahat nyusuin beberapa bulan sebelum sebentar lagi kembali bertugas :D Come June, I will report back to breastfeeding duty. Hopefully this time, too, I can do it for 2 years. Doakan aku yaaa…

Belanja… Belanja…

Belanja… Belanja…

Salah satu hal yang paling menyenangkan (dan menipiskan dompet) saat hamil adalah: belanja keperluan bayi! I love the whole process: making lists, browsing for prices, editing lists, price comparing, and of course the shopping itself. Wah, dulu jangan tanya waktu hamil pertama. Semua dibeli! Ya iyalah kan nggak dapet lungsuran. Jadi barang-barang yang gede-gede kayak crib dan stroller harus beli. Bangkrutnya itu lhoooo… Tapi senang. :D

Nah, belanja kali ini nggak terlalu banyak nih. Soalnya kan banyak lungsuran, baik dari Aria atau dari Jagesa. Baju-baju rumah ternyata cukup banyak, hihihihi…. Walau warnanya ya cenderung cowok ya. Lots of blues. But, I don’t mind my son wearing pinks so I guess I don’t have a problem with my girl wearing blues either. Yang juga masih banyak adalah popok kain, bedong dan alas ompol. Baguslah, soalnya ini toh kepake juga cuma sebentar. Gue nggak bakal tahan lama-lama pake popok kain dan I don’t believe much in swaddling anyway.  Perlatan printil-printil kayak sisir, gunting kuku gitu juga nggak beli lagi. Sabun sama sampo nebeng punya mas-nya aja nanti, hehehe…

So far, ini yang udah dibeli, dikasih harga ya buat catetan gue, mana tau ada yang perlu juga:

  • Baju lengan pendek –> 6 pcs (ini beli sebelum baju dari Jage “turun”. Ternyata dapet banyak juga :p) 11rb/pc
  • Celana panjang –> 6 pcs (sama kasusnya kayak baju di atas) 11rb/pc
  • Deterjen Cycles 65rb/kg (bubuk)
  • Waslap (punya Aria udah dekil) 24rb/2 pcs
  • Alas bak mandi (punya Aria udah bulukan) 45rb/pc
  • Sampo kering (buat gue ini mah) 60rb/pc
  • Kapas gulung 1kg 67rb/pc
  • Cotton bud
Udah. Hah? Lha kok dikit amat ye? Emang belom selesai sih belanjanya. Masih ada beberapa di daftar, like:
  • Baskom kecil. Mau beli yang stainless ah.
  • Celana pendek
  • Jumper imunisasi (buat lucu-lucuan aja :D )
  • Jemuran baju
  • Saputangan handuk Gerber
  • Minyak telon (I don’t believe in using this, actually, cuma buat jaga-jaga aja)
  • Tissue basah (kepakenya bukan buat bayinya, buat bersih-bersih peralatan aja)
  • Dispo diaper
Ada juga wishlist, jadi statusnya nggak urgen tapi tetep aja saya kepengen:
  • Termometer telinga/sentuh
  • Breastpump manual Pigeon (punya sih BP manual, tapi bahannya masih PC, kalo si Pigeon ini kan udah PP)
  • Sprei anti air
  • Diaper bag model ransel (diaper bag Aria udah rada buluk)
  • Wrap carrier, kayak Sleepywrap atau Bobitawrap gitu…
Apa lagi ya? Semoga nggak terlalu banyak yang kelupaan deh. Repot juga kalo udah mbrojol trus masih banyak yang harus dibeli. Ditambah udah ada Aria, makin susah nih mau kemana-mana.
Keliatannya nggak keluar uang terlalu banyak ya buat menyambut kelahiran si baby ini? Ehmmm… Don’t be too sure. The problem is, now that we have another person on the way, we can’t all fit into one room! So, either the baby and I move into the next room, or Aria and papa does. Either way, we need a new bed and a new air conditioner.  *facepalm*
Jadi? Ya tetep bangkrut judulnya… *meringis bahagia*

Can’t wait to see you, baby…

Perpanjang SIM di Pelayanan SIM Keliling

Perpanjang SIM di Pelayanan SIM Keliling

Nearing my birthday, akhirnya terpaksa melakukan hal yang gue malesin: perpanjang SIM. Ya males lah, dipake juga jarang :p Tapi sayang dong udah ada masa nggak diperpanjang. Kalo sampe mati terus gue disuruh ujian lagi pasti nggak bisa lah. Jadilah hari Sabtu gue dan suami tersayang berangkat mencari mobil pelayanan SIM keliling.

Malem sebelumnya udah (sok-sok-an) planning nih, berangkat jam 7 pagi biar udah sampe tempatnya sebelum buka. Soalnya katanya kan ngantri banget tuh. Namanya gueeeeee gitu, jam 7 baru bangun. Mana si Aria bangun pagi bener, jadi dia jam 6 pagi udah makan dan main di bawah sama si mbak, jam 7 dia naik terus minta nyusu, tidur lagi. Akhirnya jam 1/2 8 baru deh gue mulai makan roti, mandi, dandan dll. Bangunin si bapak, nunggu dia mandi dsb jam 9 kurang deh baru jalan. Dasarrrrr…

Biasanya tu mobil SIM nongkrong di deket TMP Kalibata, so that’s where we headed first. Sure enough, it was there. Tapi ya bow, formulirnya udah abis (kata pak pulisi yang jaga di situ). Lalu ada yang bilang coba aja ke Honda Dewi Sartika, ada juga di situ. Kalo formulir belom abis masih bisa di situ. So off we go, untung jaraknya kan nggak jauh, with the new (and weird) flyover already up and running.

Sampe di sana, horeeee masih bisa… Jadilah gue isi-isi formulir setelah mengeluarkan Rp. 2000 untuk fotokopi KTP dan SIM (you can provide these yourself, if you don’t want to pay) plus Rp. 2000 buat beli bolpen (should’ve remembered to bring my own). And after that, all we have to do is wait.

Gue nyampe ke Honda itu sekitar jam 9.20. Itu orang udah banyak dan ternyata gue dapet urutan 54. Jam 10 itu aja baru sampe urutan 20-an.  Lumayan deh nunggunya. Arief sempet makan ketoprak dulu, dan jam 11.15 akhirnya kita makan di Sederhana, di sebelah. Jam 12-an balik lagi.  Itu masih nunggu sampe sekitar jam 1-an.

Padahal prosesnya sih cepet aja. Setelah udah giliran gue, masuk ke mobilnya, si mas-mas ketik-ketik input data dan verifikasi ke gue (gue udah bilang tinggi gue 162 cm, dia bilang, “ah, 165 cm aja, kan masih masa pertumbuhan”. Maksud looo?), ambil thumb print, foto, tunggu selesai dicetak SIMnya, selesai. Bayar Rp. 140.000. After that I took the freshly printed license out and a clerk put a protective film on it. And that was that. Jadi untuk proses 20 menit nunggunya 3 jam.

Jadi kalo ada yang mau memanfaatkan layanan perpanjangan SIM keliling ini ( I highly recommend it), ya datanglah pagi-pagi, sebelum jam 8. Jangan kayak gue…

 

ps: kondisi dalem mobil itu kan pencahayaannya seadanya, jadinya your driver’s license picture would probably look like crap. :D

Emak-emak Rempong

Emak-emak Rempong

Rasanya, jaman mama gue dulu, jadi ibu nggak serepot sekarang deh. Nowadays, mulai dari hamil aja udah banyak yang dipikirin. DSOG-nya pro normal gak? RSnya pro asi-imd gak? Pas anaknya udah keluar, DSAnya pro RUM gak? De es be de es be…
Like the one I’m having problem with now. Toothpaste. Iya bener. Odol. Aria 27 bulan sekarang. Giginya udah banyakkkk. I don’t really count them, tapi kayaknya hampir semua gigi susunya udah keluar. Dia juga udah makan segala macem, termasuk sweets and sugary food yang bikin gue ngeringis tiap kali liat dia makan. So, nggak bisa nggak, harus sikat gigi. Luckily, he doesn’t have a problem with brushing his teeth. Aria suka sikat gigi. Sampe sekarang masih pake sikat silikon yang dimasukin jari itu. Pertama dia sikat sendiri giginya, abis itu baru deh mama atau papa sikatin lagi. Problem is, he can’t spit yet. So we’ve been using water to clean his teeth. Hey, better than nothing, right?
So here I am, in the hunt for safe toothpaste for my not-spitting son. Easy task? Guess again. Pasta gigi anak banyak di supermarket, tapi dari hasil baca2, nggak semua aman. Bahan kimia dalam pasta gigi anak banyak yang berpotensi bahaya jika tertelan dalam jumlah banyak. Lah, Aria kan gak bisa ngeludah? Kalo tiap hari dia telen dikit2 kan numpuk juga dong? Mulai pusing deh gue. Bahan apa aja sih yang sebaiknya tidak ada dalam pasta gigi anak? Antara lain: sodium lauryl sulfate, parabens, saccharin. Oiya satu lagi, fluoride. Laaaaaahh? Bukan itu biasanya jadi fitur utama pasta gigi? Ho oh. Fluoride tidak bisa tertelan dalam jumlah banyak, makanya penting buat cari pasta gigi tanpa fluoride buat anak yang belum bisa meludah. Kalo udah bisa sih nggak pa-pa, soalnya TIDAK ADA bahan lain selain fluoride yang mampu memberikan perlindungan terhadap cavity (ini sih menurut US-FDA ya, cmiiw). Jadi fluoride tetep perlu untuk perlindungan dari gigi berlubang. Nanti kalo Aria udah bisa kumur+meludah pakein yang ada fluoride deh. Nah, apa dong pasta gigi yang memenuhi syarat? Sayangnya gue belom nemu di supermarket. Kemaren beneran gue jongkok di depan rak oral care anak-anak di supermarket. Semua pasta gigi gue pelototin ingredientsnya. Semua mengandung bahan2 “terlarang” di atas. Cape deeeehhhh… Bahkan yang ada tulisan “aman jika tertelan” pun masih mengandung fluoride. Akhirnya? Browsing. Cari2 merk yang cukup aman. Ketemu sih beberapa. Semuanya impor. Gak murah. Sial.
Sekarang lagi nunggu kids toothpaste produksi Burt’s Bees. Inipun menurut www.cosmeticsdatabase.com hazard levelnya masih 4 (out of 10). Ya lumayanlaaahhh, daripada lumanyun.
Tuh, odol doang aja bikin repot. Ada kali yang bilang, “lah elu sendiri semua dibawa repot. Santai aja, cuma masalah odol ketelen doang.” Well, nggak bisa. Gue akan upayakan yang terbaik buat anak gue dong. Apalagi jaman begini, informasi dengan mudah bisa dicari. Pake bebe, aipon, aiped dll itu buat apa? Mosok buat gaya doang? It’s a gateway to endless sources of information. Masa udah tau sesuatu itu berpotensi bahaya, masih santai aja? No thanks, that’s not me. Jadi, yah, inilah gue: emak-emak rempong.

Sun and Moon

Sun and Moon

You had once told me, as we gazed upon the beautiful full moon, that I am your moon. Lighting your path in the darkest of night, helping you find your way.
Perhaps that is true, but I can’t take all the credits. The moon shines not on its own. The light is a reflection of something utterly brighter and stronger. The sun.
The only reason I can be your moon, is because you are my sun.

Badanku Sayang…

Badanku Sayang…

Nggak jadi punya bayi, but the damage is done. Perut sudah sempet melar (dikit) dan sekarang masih gelemberan. >.< Tapi itu no problem deh. Dari dulu juga emang semi buncit kok.
Yang rada ngeselin punggung nih! Thanks to hormonal changes during the short 12 weeks that I was pregnant, my back now has leopard print. Serem dan jijay nih. Bekas jerawat dimana-mana gitu. Haduuuu gimana nyembuhinnya ya? Wong bekas-bekas jerawat waktu hamil Aria aja belom ilang kok. T__T
Maaf ya suamiku… Agak eyesore dikit nih…