Exhausted

Standard

Consider yourself warned. I’m about to rant.

I know every pregnancy is different and I shouldn’t expect otherwise. This one though, really do a number on me. Circumstances are clearly different this time around since I’m working full time. With the other two pregnancies I was at home. Add that to the fact that I am older, live a sedentary lifestyle and perhaps with the aid of pregnancy hormones, in my 32nd week I feel exhausted most of the time. I drive to work and will continue to do so until my leave since it’s the best option. Usually it takes only around 30 mins to get to work, not long by Jakarta standard. Still, I arrive at the office slightly tired from it. I spend the day sitting with the occasional walks to the pantry or loo. This probably contribute to my stiff shoulders and back pains. Then I drive home, which usually takes 30-45 mins due to traffic.

Usually I come straight upstairs. Nowadays, the climb will make my knees hurt. Hurt, damn it. I may not be the fittest person but never have I experience knee pains! Aren’t those for people (read: older people) with some kind of joint problems or injuries? Surely not me?

Each night, all I could do is curl up on my bed, trying to ease the various aches. Oh, have I mentioned that I get short breaths, too? Sleeping is tricky. I need to make sure my belly is safe, I can breathe properly and I’m generally comfortable. Sometimes I can only get two out of three.

Maybe I need a massage.

Mengingat Cerita 6 Tahun Silam

Standard

Kira-kira 10 minggu lagi, seharusnya bayi di perut ini sudah siap untuk lahir. Emaknya gimana? Siap juga, nggak? Errr… Asli nervousnya sama-sama aja dengan waktu pertama kali mau lahiran dulu. Hamilnya boleh santai, tapi ngeri banget membayangkan apa yang harus dilakukan begitu bayinya hadir. Bisa nggak ya merawatnya?

Satu hal yang sudah mengganggu in the back of my mind saat Aria lahir 6 tahun lalu adalah alergi. Soalnya, bapaknya memang punya alergi. Dulu kalau makan udang pasti gatel-gatel. Juga kalau kena debu bersin-bersin hebat. Jadi, udah curiga kecil kalau anaknya bakal membawa bakat alergi. Kejadian, nggak? Iye banget. Aria sejak awal udah nunjukin tanda-tanda dermatitis atopi. Waktu itu sampai dokternya bilang gue harus diet. Hindari seafood, dairy, protein hewani. Asli mau mati rasanya. Cuma dua minggu akhirnya nyerah dan gue makan normal tapi dikontrol, dan yang heavily suspected alergen (such as udang) dihindari. Aria gampang banget iritasi kulitnya. Pipinya merah-merah, leher lecet, sampai bisul. X______X Karena ada DA-nya inilah Aria nggak bisa sembarangan dikasih produk untuk kulit. Syukurnya dari awal gue penganut minimal cosmetics untuk bayi. Nggak ada bedak dan aneka krim buat bayi. Mandi pakai sedikit sabun aja.

Waktu masih newborn, Aria gue pakaikan popok kain karena toh memang masih sering pup dan harus sering diganti. Etapi, ternyata nggak terhindar juga dari ruam popok lhoooo… Haduuuuu…. Karena memang kulitnya sensitif, sebentar saja kontak dengan pup atau lembap dikit aja, merah kulitnya. Suatu ketika bahkan sampai timbul bintik dan Aria sampai nangis jerit-jerit. Huuwwwaaaaa… Kalau soal lembap, memang yang harus diperhatikan adalah segera ganti popok kain setelah basah atau pakai diaper sekali pakai yang kering dan nyaman.

Ini juga yang dikonfirmasi oleh dr. Rini saat acara gathering Dari Kandungan ke Dunia yang diadakan Mommies Daily. Kulit bayi newborn itu sensitif banget. Apalagi yang ada kecenderungan DA. Makanya perlu banget dijaga. Antara lain yang perlu diperhatikan adalah popok bayi, pakaian, selimut, handuk, juga produk yang digunakan untuk mandi. Kalau memang nggak perlu, nggak usah pakai bedak, lotion dan minyak telon. Bedak yang terkena keringat malah bisa menggumpal dan membuat iritasi kulit bayi.

Pengalaman gue, waktu malam itu adalah waktu krusial. Kalau kekeuh pake popok kain, berarti harus ada yang siaga diaper duty karena nggak mungkin bayinya disuruh nunggu lama untuk ganti popok basah. Makanya, kira-kira usia 10 harian, Aria gue pakaikan popok sekali pakai saat malam hari. Selain membantu kulitnya kering lebih lama, gue juga bisa tidur :p Kalau siang masih pakai popok kain. Lagi-lagi, Aria nggak bisa pakai merek sembarangan  karena kulitnya yang ekstra sensitif itu. Harus yang menyerap dengan baik dan permukaannya halus dan nyaman.

Saat gathering kemarin ada Mbak Nita dari Pampers yang menjelaskan soal keunggulan Pampers. Yah, merek ini memang sudah terkenal pionirnya popok sekali pakai kan. Mereka kalau riset juga serius sekali. Pokoknya demi kenyamananan bayi. Berdasar hasil riset terbaru Pampers, kini hadir Pampers dengan teknologi #5starsprotection yang ditujukan untuk membuat kulit bayi (terutama newborn) tetap sehat dan terhindar dari masalah kulit, terutama ruam popok yang sering jadi momok. Dengan teknologi terbaru ini, ada keunggulan yang membuat bayi nyaman menggunakannya:

  • Lapisan pelindung agar kulit bayi tidak bersentuhan langsung
  • mengandung aloe vera untuk mencegah ruam popok.
  • Perlindungan agar kulit bayi lebih kering selama 12 jam sehingga tidurnya tidak terganggu
  • Permukaan selembut kapas yang nyaman dan juga berongga sehingga sirkulasi udara terjaga, ini juga mencegah kulit bayi lembap
  • Desain yang nyaman disesuaikan dengan tubuh bayi, lebih fleksibel terutama di area perut

Tujuan dibuatnya Pampers generasi baru ini tentunya agar ibu-ibu lebih tenang memakaian popok sekali pakai untuk bayinya. Kan, udah dijaga sejak dari kandungan, tentunya saat lahir kita juga terus mau melindunginya, dong? Just like in this video. Coba nonton, deh.

 Pampers dan Mommies Daily juga bikin lomba blog, nih. Hadiahnya iPad 4 (insert emot mlongo). Yang mau ikutan silakan klik 5starsprotection.mommiesdaily.com yaaaa…

 

20140710-112431-41071937.jpg

20140710-113909-41949628.jpg

All Dolled Up

Standard


Memang sih, lagi malas banget dandan. Justru itu, kalau ada yang mau dandanin pastinya seneng banget! Waktu acara Female Daily Beauty Workshop tanggal 18 Juni lalu, disuruh jadi model yang akan didandani oleh Mutsuya Sakai, makeup artist Kanebo yang datang dari Jepang. Seneng-seneng aja lah, gue. Apalagi sebelum makeup dipakein skincare Kanebo, mulai dari cleansing!

Pas banget hari itu suami tersayang baru pulang dinas selama seminggu. Hihihihi lumayan lah jadinya dia dapet pemandangan oke, istrinya ngga kucel :p

with Mr. Mutsuya Sakai

with Mr. Mutsuya Sakai

photo4

 

Apa aja kemarin produk yang dipakai ya?

Lunasol Point Make Off (eye & lip makeup remover)

Blanchir Superior Oil Cleansing

Blanchir Superior White Foam Totalyzer

Blanchir Lotion

Moisturizer

Lunasol Makeup Base

Impress Cream Foundation (I’m praying someone will be kind enough to gift this to me. I love it!)

Lunasol Loose Powder

Lunasol Eyelid Base

Lunasol Eyeshadow Quad, liquid eyeliner, mascara and brow powder

Lunasol blush

 

I love getting dolled up! :)

 

Cheerios!

 

 

Feelin’ Lazy

Standard

I’m lazy by nature, but being pregnant doesn’t help my condition at all. I get lazier with my expanding belly. Maybe it’s because I’m also getting older, but this time around being 26 weeks pregnant is not as easy as it was with my previous children. I get tired so much and my belly is so uncomfortable. :(

Last time, I wrote about simplifying my skincare routine. I cut it down to less than 5 products. Well, I’m applying the same principle on makeup, too. I go to work bare-faced nowadays. You guess it, too lazy to put on makeup. In order not to look like I roll out of bed and head straight to work, I put on lipstick just to add some color.

Just because I’m in a lazy mood to put on makeup doesn’t mean I stop shopping for it! Hence, my mini makeup haul this month. Mostly lipstick since that’s what I use frequently nowadays. No use of getting new foundation when I can’t find the willpower to put it on. So, here they are!

photo 2 photo 1

I’m restocking my favorite eye primer: e.l.f Essential Eyelid Primer in sheer. Works well on me. And since my pen eyeliner is nearing its lifetime, I got MAC Penultimate eyeliner which I’ve been wanting to try. As for the lipsticks, my new babies include MAC Aquatic in Pet Me, Please (got this purely because of the packaging, I wanted Mystical or Enchanted but they were sold out), Wet ‘n Wild Megalast in Just Peachy and Lime Crime Geradium. No swatches yet since I’m, well, lazy. :p

 

Cheerios!

Hormones, Hormones

Standard

I am currently in my 20th week of pregnancy. Couple of weeks ago I started noticing something. My skin seemed drier than usual. I found some areas on my face that are flaky. Today I realized that my fingertips started to show some flakiness, too. I knew that hormonal changes can do weird things to your body so that was my first thought. Upon scouring the internet I found that indeed hormonal and immune system changes during pregnancy is likely the reason behind skin changes.

Sadly, I’m not the most diligent person when it comes to skin and body care. Sure, I love makeup, but skin care is a whole other ball game. Now I have no choice but to pay more attention while at the same time looking for products safe enough to use.

My laziness hit all time high nowadays. The simple task of cleansing face at the end of the day has become such a chore. Now I’m relying on facial wipes to remove dirt and makeup (which now I rarely use) and non alcohol toner afterwards. In the morning I use booster/essence and then moisturizer. I’ve read that in order to combat dryness during pregnancy, a treatment of moisturizing facial mask once a week is recommended. I only plan on doing once a month/3 weeks. I hope it’s enough :/

I haven’t ask my obgyn or do a skin consultation but my suspicion is that although I continue to experience oiliness on my face (especially nose and T-zone), the flakiness suggests dehydration is taking place. This is frustrating :( I hope once I start religiously doing my skincare regime, my skin’ll get better.

These are the products I plan to use. Already trimmed and narrowed down since I can’t use too much. Shoo, shoo, dry skin!

Sheet Mask from The Face Shop, used once a month

Mitu Shikada Facial Wipes

Mitu Shikada Facial Wipes

 

Viva Green Tea Face Tonic

 

Sulwhasoo First Care Activating Serum

SK-II Stempower

Play Problem

Standard

Bisa dikatakan gue ini lahir dan besar di perkotaan. Kecuali periode 5 tahun saat Papa tugas di kota kecil di Sumatera Utara, sebagian besar hidup gue, ya, di Jakarta. Menengok ke belakang, periode 5 tahun di luar Jakarta itu ternyata adalah masa-masa menyenangkan dan nggak habis gue syukuri hingga saat ini. Why? Selama 5 tahun itu, ternyata (ho oh, baru sadar setelah dewasa) gue mengalami apa yang mungkin bisa disebut masa kecil yang cukup ideal. I got to play. Main di luar, eksplorasi lingkungan sekitar, lari sampai capek, manjat pohon, getting dirty, main di “comberan”, tersandung, jatuh, badan luka, menangis. Semua hal “normal” yang sekarang malah jadi barang langka. Gue coba bandingin dengan kegiatan anak gue sendiri saat ini di usia yang kira-kira sama dengan gue waktu itu: usia TK. Anak-anak gue lebih banyak bermain pasif di dalam rumah. Nonton TV (btw, ini juga ternyata bukan bermain), main gadget, main puzzle, menggambar dll. Kalau mau main agak aktif, paling di depan cluster rumah kami yang “hanya” berupa jalan aspal sepanjang beberapa ratus meter. Lumayan buat naik sepeda atau lari-lari, sih. Tapi sebentar juga bosan mereka.

Ngga berani foto sendiri. Cari temen :p

Ngga berani foto sendiri. Cari temen :p

Tanggal 12 April yang lalu gue hadir di acara #KidsToday Project Blogger Gathering, diundang Mommies Daily. Main event-nya adalah pemutaran video #KidsToday Project dan talkshow tentang pentingnya bermain bersama psikolog Roslina Verauli. Dalam salah satu video ada curhatan anak-anak perkotaan tentang apa yang mereka inginkan. Mayoritas ingin punya tempat bermain yang lebih banyak: taman, lapangan bola, jalur skateboard. Kebayang, sih. Anak-anak itu, kan, energinya besar. Mereka butuh tempat untuk menyalurkan semua energi itu. Cara paling oke memang bermain aktif. Ini dia yang sekarang agak susah dipenuhi. Bersyukurlah kalau rumahnya dekat taman (sekarang syukurnya udah mulai banyak, ya), tinggal bawa anak-anak ke sana lalu bisa lari-lari. Itu pilihan paling mudah, sih. Lha, wong, ke pantai aja musti bayar. *bersungut-sungut* Area main khusus anak yang rada lengkap juga ada, dengan biaya yang lumayan (hampir seratus ribu per anak). Sudah pasti nggak tiap minggu ke sini, ya. Habis uang belanja gue. Btw coba liat video yang gue maksud di atas itu ya.

Ngomongin soal bermain, Mbak Vera juga bilang anak usia TK itu perlu kira-kira lima jam per hari untuk bermain. Deg! Anak gue udah memenuhi porsi ini belum, ya? Mereka lebih banyak nonton TV dan itu bukan bermain. Terlebih lagi, banyak skill yang hanya bisa dilatih kalau anak bermain aktif di luar ruangan: motorik kasar, kemampuan spasial/keruangan, some agility; those are easier to acquire when playing outside. Oiya, bermain itu juga mengasah fungsi eksekutif, lho. Kemampuan-kemampuan seperti pengambilan keputusan, inisiatif, nalar, kepemimpinan dan followership bisa terasah sambil bermain! Ini PR gue dan Arief, nih. Sadar banget, kok, kalau selama ini anak-anak kurang banget porsi bermain aktifnya. Perlu diinget juga nanti pas sudah pada sekolah (terutama SD) untuk nggak membebani mereka dengan terlalu banyak les dan kegiatan. Tinggal orang tuanya aja, nih, yang mesti lebih rajin cariin tempat mereka bisa main. They won’t be preschoolers forever, right? Anywho, acara kemarin itu seru banget karena topiknya yang cukup penting bagi emak-emak seperti yours truly. Selain itu, seneng juga bisa keemu temen-temen blogger Mommies Daily yang lain. Tentunya, tak lengkap kalau ngga pake foto-foto! Ini emak-emak nggak kalah kenes sama anak-anak kalau udah urusan foto bareng.

Bareng fellow blogger dan tim Mommies Daily

Bareng fellow blogger dan tim Mommies Daily

Foto dari @ariendasapari. Heboh benerrrr

Foto dari @ariendasapari. Heboh benerrrr

Pulangnya kita juga dibekali dengan hasil foto di photobooth dan juga goodie bag! Needless to say, gue berbinar-binar bahagia karena isinya adalah: Rinso Cair! Ohmyimsohappyicouldclimbmountains! I’m such a mom. :D Oiya, Rinso juga mengadakan blog competition, lho. Lumayan ada hadiah uang tunai, voucher Gramedia dan suplai produk Rinso! Cek di sini, yak.

Obat Sepi Saat Ditinggal Biz Trip

Standard

Dua tahun belakangan ini suami lagi sering dapet rezeki dinas. Walau kerja, kita anggep rezeki aja, kan bisa jalan-jalan. Nah, masalahnye (keluar betawinya), yang ditinggal ini loh, nelongso. Lumayan ditinggal lima hari sampe seminggu. Komunikasi tergantung ada wifi apa enggak. Walau ada anak dua ribut di rumah, nggak ada suami tetep beda rasanya.

Nah, biar yang ditinggal (gue) nggak terlalu bete, I distract myself by compiling a shopping list. In my case it usually consisted of makeup or skincare. Kenapa gue bilang ini distracting? Saat bikin list-nya, gue jadi nggak mikirin nanti gimana sepinya pas ditinggal. Gue kalo bikin list oleh-oleh gini bisa lama, lho. Bukan apa-apa, dana soalnya terbatas, dan yang gue mau banyak :D Jadi gue list yang gue mau, research selengkapnya warna de el el yang gue mau, lalu edit sampe jumlahnya masuk akal. Kadang gue bikin list nggak cuma buat gue doang. Suami gue itu selalu bingung beliin oleh-oleh apa buat keluarga yang lain. Jadi biasanya gue bikinin juga list oleh-oleh massal ini: buat keluarga Sawo, keluarga Lenteng, anak-anak, temen kantornya segala. Cuma sampai situ? Nggak, lah. Gue list juga tiap item bisa dibeli di mana. Nama toko, areanya , kalau ada bahkan alamat. Ini buat memastikan itu oleh-oleh kebeli. Kalau dia nggak tau di mana tempatnya, bisa-bisa nggak kebeli. Manyun lah gue. Riset toko ini juga lumayan menyita waktu karena gue pastiin tokonya berada dekat hotel tempat dia nginep, atau deket lokasi meetingnya, atau deket lokasi nantinya dia jalan-jalan. Kadang kalau itinerary-nya lengkap, belanjaan gue-lah yang menyesuaikan dengan toko-toko yang accessible sesuai itin. Yep, I’m thorough.

Hasilnya

Hasilnya

Adanya list belanja ini juga memotivasi suami gue untuk lebih sering komunikasi, entah via sms atau Face Time. Soalnya soon or later dia pasti butuh nanya ke gue soal list oleh-oleh ini. Misal, udah sampe toko tapi warnanya ngga ada. Biasanya udah gue kasih alternatif warna/produk juga, sih. Nah, biasanya dia akan menghubungi di saat-saat seperti itu. Kalau ada wifi gratis lumayan, bisa Face Time. Sekalian kangen-kangenan, dong. :D

Setelah pak suami pulang dan kita bongkar oleh-oleh, rasa kangen dan kesepian selama ditinggal bisa terobati setelah liat belanjaan, hahahaaaaaa… Apalagi kalau semua berhasil kebeli, ikut lega karena riset gue berguna dan ngebantu. Aneh? Iya, kali. Biarin aja, deh. Everyone has their own coping mechanism and this is one of mine.

satu hal yang bisa gue sarankan untuk yang mau nitip oleh-oleh, buatlah list selengkap mungkin. Pikirkan juga, yang beli ngerti barangnya apa nggak? Salah satu alasan gue bikin list selengkap yellow pages adalah karena suami gue laki-laki (well, duh) yang nggak mudheng makeup atau skincare. List yang jelas akan mempermudah dia belanja dan nggak harus selalu bergantung pada sales assistant di toko. Kalau dirimu mau nitip beliin gadget ke orang yang nggak ngerti gadget, sama, kan? Siapin spek-nya supaya nggak salah beli. Nanti nitip aipon yang kebeli aipod kan situ juga yang bete?  Selamat nitip!